Tuesday, May 30, 2006
Bersatu Kita Teguh...
Saturday, May 27, 2006
Pita Hitam untuk Yogya
Hari ini pagi pukul 10, seperti biasa aku bergegas siap2 untuk latihan sepakbola. Tidak ada perasaan aneh atau apa. Selesai main sepakbola sekitar pukul 14.00, saat aku sedang bertelfon ria dengan istri, muncul sms dari sahabat di yogya yang memberi kabar bahwa ada gempa dahsyat di Yogya pagi ini pukul 05.55 WIB (thanks for the sms Rud..). Sontak aku kaget, karena kota ini sudah begitu lekat dengan perjalanan karierku selama ini, selain tentu jagi masih banyak sanak keluarga dan rekan2 yang tinggal di-sana. Jujur saja, secara relatif, Yogya memang tidak memiliki sejarah panjang terhadap bencana alam seperti banjir, gempa bumi atau tanah longsor, kecuali memang ancaman laten Gunung Merapi. Friday, May 26, 2006
Kembali...
Monday, May 15, 2006
DUEL
Angin derasmu menciutkan nyali,Suhu rendahmu membekukan dinding tubuh,
Bahasamu,
Caramu,
Sistem-mu,
Keangkuhan takhta sucimu,
Kesepian ini,
Keterasingan ini,
Kemandirian tak berujung,
Dualisme isi kepala,
Rapuh jiwa ini,
Sakit yang menerpa tubuh,
Kerinduan yang mencekam,
Ketidakberdayaan ini,
Kelelahan,
Penantian,
Kebimbangan,
Sang waktu yang pongah,
TAK AKAN,
membuatku terhempas,
membungkam mulutku,
membelenggu tanganku
mengingkat kakiku,
meratapi jiwa meronta,
bertahan berdiam diri,
tenggelam dalam kepasrahan,
patah berkeping,
hancur berderai,
Karena DUEL ini,
bukan hanya untukku,
bukan untuk hari ini,
bukan hanya satu kali,
Demi satu RUANG kelak. Demi untuk yang TERPILIH.
*Tetap bertahan Menunggu Pagi
**........Victory belongs to the most persevering.” (Napoleon Bonaparte, 1769 - 1821)
Sunday, May 14, 2006
Pokoknya Sheila...
Biarpun jadwalnya keluar albumnya diundur, tapi tembang2 SO7 udah bisa didengar di radio-radio lohh. Hehe, semoga keren...dan bagi yang punya MP3-nya, jangan lupa berbuat amal dengan mengirimnya via email ke aku.----
507; Sheila 0n 7 Coba Lepas Dari Titik Kritis
----
Sunday, April 30, 2006
Tak Hanya Teman...
Hidup kita memang tiada arti tanpa keberadaan sahabat dan rekan-rekan terdekat. Sepanjang waktu, perjalanan kita akan selalu diwarnai oleh tawa, canda, tangis dan ceria mereka. Teman memang datang dengan silih berganti, begitu pula dengan cerita di-sekelilingnya. Tapi terkadang selalu ada sekelompok teman yang tidak dapat lepas dari genggam erat lingkar persahabatan. Kedekatan dengan mereka terkadang melintasi batas2 ruang waktu dan perbedaan. Aku pernah cerita tentang sahabat-sahabatku di-waktu kuliah bukan? plus cerita heroik mereka kala datang ke acara pernikahanku. Thursday, April 20, 2006
Cerita Rindu
Aku rindu untuk sekedar bercerita indahnya bunga mengembang kala musim gugur tibaAku rindu hanya untuk bertutur indahnya Yarra kala sore memeluk kota
Atau sekedar katakan padanya bahwa kerianganku tak berarti tanpa dirinya
Ingin kuungkap malam-malam sepiku yang tanpa keriuhan suaranya
Tahukah engkau wahai langit?
bahwa langkah2 kaki semakin gontai jika aku harus mengarungi mimpi tanpa ia disampingku?
Angin kota, bisakah kau ceritakan tentang perjuangnku di sini?
Bintang malam, bisakah kaubagi senyumku untuk lirih sepinya di sana?
Embun dingin, bisakah kau bawa pesan untuknya, agar ia terus bertahan dalam kerasnya badai?
Semburat mentari senja, mampukah kau sampaikan hangat pelukku untuknya?
Derai-derai keterpisahan ini mungkin tak segera berakhir, tapi bukan berarti akan selamanya.
Demi sebuah kisah yang akan tertulis indah,
Demi jejak-jejak langkah yang selalu dikenang rapi,
biarlah cerita rindu ini kita simpan bersama...hingga kelak tiba waktu untuk bersua.
*Diadaptasi dari "Lagu Rindu"-Kerispatih*
Caulfield, 11:06
Tuesday, April 18, 2006
Arab? Bangali? Indian? Chinese?*($*#@*)(
ABG Gaul: Hi, Dude...how are you doing?
Aku: Fine man... (gak kalah gaul-nya)..thank you...
ABG: Want to go to school?
Aku: Yeap...
ABG: Nice...where are you come from? Middle east? Arab?
Aku: Nope, I am from Ivory Coast...(yg ini boong-an)..
------------------------
Pengalaman selanjutnya pas waktu acara makan-makan mahasiswa baru kampus Caulfield. Waktu itu kebetulan penyedia kateringnya adalah restoran India, gak heran kalo pelayannya banyak dari negeri Bollywood itu. Saat aku ngantri mau ambil martabak telor, si penjaga meja menyapaku untuk sekedar berbasa-basi,
Bollywood: Are you Bangali?? (dengan kepala yang gerak-gerak...)
Aku: No, I am not..I am from Vietnam (biar mampus tambah bingung tuh orang...).
------------------------
Cerita berlanjut pas aku lagi nunggu trem 03 ke Caulfield Park untuk bermain sepakbola. Karena waktu itu hari Sabtu, jeda antara trem yang satu ke trem yang lain lumayan lama. Saat aku menunggu datanglah seorang bule gemblung setengah teler menyapaku.
Bule gemblung: Hi mate, waiting for the trem?
Aku: Yeah...I've been waiting for 15 minutes though.
Bule gemblung: Yups, coz this Saturday. Anyway, are you a student? Monash?
Aku: Yups. in Caulfield Campus
Bule gemblung: Ok. My name is Ted..I came from Greece, you know Greece? Are you from Indian? ...
-----------------------
Wednesday, April 12, 2006
G for George...
Tuesday, April 11, 2006
Atas Nama Kebangsaan...

Puisi di bawah adalah "interferensi dan interupsi" untuk "keindahan
argumen Rizal" dalam membungkus "peluh rakyat".
==========================================================
Blok Cepu, Mission Accomplished
Oleh Rizal Mallarangeng
Kesepakatan Blok Cepu adalah sebuah prestasi tersendiri dalam sejarah
perminyakan Indonesia. Seharusnya kita merayakan keberhasilan itu dan
kemudian memikirkan bagaimana potensi penghasilan tambahan yang
cukup besar bagi negara dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi
kesejahteraan rakyat. Selengkapnya bisa dilihat di http://mediacare.blogspot.com/2006/03/rizal-mallarangeng-blok-cepu-mission.html
..........
===========================================================
Selamat datang imperialisme baru
mari-mari duduk dan makanlah di negeri kami
akan kami sediakan budak-budak dari bangsa kami
akan kami sediakan tanah-tanah kami
akan kami sediakan air kami
bila masih belum cukup minumlah darah dan keringat rakyat kami yang kurus kerontang
bila belum cukup minumlah air susu ibu kami hingga berupa darah
kenyangkan perut tuan
kenyangkan perut tuan
dan mari menari di atas tubuh kerontang ibunda kami
Tak usah khawatir dengan suara berisik rakyat kami
sebab hanya sedekah sesuap nasi mereka diam
Jangan khawatir dengan suara keras para demonstran
karena dengan sedekah recehan mereka diam
sambil memasang topeng
Tak usah bingung dengan suara berisik LSM
sebab dengan demokrasi mulut mereka bisa disumpal
sebab dengan recehan dana donor mereka teriak demokrasi yang sama
seperti yang tuan mau
Mari tuan jangan bimbang
Senayan tidak bakal menggoyahkan kita
Sebab mereka adalah para tikus senayan
Menggertak supaya mendapat uang lebih banyak
Undang mereka bersantap bersama kita
maka semua akan mudah diatur kalau perlu mereka akan sibuk menggelar
sidang-sidang yang memuluskan perjalanan tuan
Ahh tuan jangan ambil pusing dengan aktivis
Sebab mereka lebih pandai bertengkar
Dan enggan bersalaman bersama kawannya
Mereka lebih sibuk bertengkar ketimbang mengurus kita...ha..ha
Mari tuan kenyangkan perut tuan
Menarilah di atas bangkai ibu kami
poetry timoer
Friday, April 07, 2006
Birthday SENDIRI
507
1) Sakti keluar dari S07, katanya mau memperdalam ilmu agama di Pakistan (jangan lupa sekalian belajar merakit bom juga, heheh)
2) Duta 2 hari lalu jadi komentator sepakbola di TV7 waktu ada acara Perang Bintang Liga Indonesia. Nih bocah memang lumayan main bolanya. Dulu pernah lihat dia main bola di zaman PORDies UGM.
3) S07 bakal bikin lagu buat Piala Dunia 2006 nanti, judulnya "Sang Pemenang"...hmmm..gimana yah lagunya??...kalo aja gak garing kayak theme song Padi zaman Piala Dunia 2002.
4) SI DODOL2 INI MAU NGELUARIN ALBUM BARU BERTAJUK "507" YANG BAKALAN DI-RILIS 6 MEI NANTI BERTEPATAN DENGAN 10 TAHUN-nya S07!!
Anybody willing to send the album for me?
5) TEUTEUPP.....S07 RULZ! Oyeahhh!!
Monday, April 03, 2006
Menunggu Pagi (2)
Saturday, April 01, 2006
Menunggu Pagi
Doa Untuk Resya
Thursday, March 30, 2006
Dinamika Dinamis
Tuesday, March 28, 2006
Manis di Bibir...
Subject:
Graduate Induction Program Survey
Date:
Tue, 28 Mar 2006 12:43:11 +1100
From:
GSB
To:
gsoe3@student.......
Dear Gatot,
Firstly can I thank you for the time taken to fill out the survey, I was wondering if it would be possible to use some of your comments for the GSB website?
One of the question was: "Are there any other comments you wish to make about the program?"
You reply was:
"Keep it up the good spirit, arrangements and the food! The response of
the GSB staff was excellent. When I informed them that I changed the
session time, they promptly response and allocated me to the other
session schedule. Good service!!"
Please could you reply back if you agree that we can use this comment.
If you do agree please can I get some background information about yourself? For example what made you study at Monash?, what's you current work status?
Regards,
--
Mr Ashley Thomas
Graduate Administrative Assistant
Graduate School of Business
Faculty of Business and Economics
Monash University
Caulfield Campus
-------------------------------------------------------------------------------
Sunday, March 26, 2006
Hanya Titipan..
Friday, March 24, 2006
You"ll Never Walk Alone*
Tuesday, March 21, 2006
Keren Aja Lagi.. (Lihat Commonwealth Games)
Monday, March 20, 2006
Bertahan di Sini: Mencari Tempat Singgah di Australia
Berangkat dari pertanyaan beberapa sahabat-sahabat yang akan segera menyusul menuntut ilmu ke negeri kangguru maka muncullah seri tulisan "Bertahan di Sini". Edisi pertama dari serangkaian cerita untuk sekedar bertahan hidup di negeri orang. Semoga membantu sesama pejuang bangsa yang akan mencari ilmu di tanah bangsa Aborigin ini.---------------------------------------------------------------------------------Mencari tempat singgah di Aussie, gak beda dengan mencari tempat tinggal di Indonesia. Gampang-gampang susah, susah-susah gampang. Balik lagi, semuanya pasti jodoh-jodohan. Terlepas dari itu semua, berikut beberapa hal tentang tempat tinggal di Australia khususnya Melbourne bagi mahasiswa.
Tipe tempat tinggal
Secara umum tipe tempat tinggal bagi mahasiswa dibagi 2:
- On campus accommodation
- Off campus accommodation.
Tipe yang pertama merupakan akomodasi yang dikelola oleh Universitas dan berlokasi dekat atau malah di dalam kampus yang bersangkutan. Secara umum ada keuntungan tinggal di tipe akomodasi ini, antara lain: relatif dekat dengan kampus dan memiliki nuansa kehidupan multinasional karena kita tinggal dengan mahasiswa dari beragam bangsa. Kerugiannya antara lain, harga sewa relatif cukup mahal, aturan sangat ketat dan perbedaan budaya antarmahasiswa terkadang bisa menjadi hambatan. Biaya yang dikenakan meliputi: biaya sewa dan amenities fee. Billing sudah termasuk di dalamnya dan tentu saja makan tidak ditanggung.
Tipe yang kedua merupakan tipe akomodasi yang umum. Tipe ini meliputi:
1) Homestay; kita tinggal bareng keluarga Australia dan membayar biaya-biaya tertentu.
2) Hostels; hampir sama dengan on campus accommodation, bedanya hostels ini dimiliki oleh swasta bukan oleh universitas.
3) Private rental accommodation; biasanya terbagi atas shared houses, studio, shared flat dan shared apartment. Shared houses, seperti kost-kostan di Indonesia gitu tipe-nya. Ada 1 rumah yang terdiri dari beberapa kamar, kemudian kamar itu disewakan. Fasilitas lainnya dipakai bersama-sama. Studio: all in one. Kamar, dapur, kamar mandi dan toilet dalam 1 ruangan, jadi tidak ada yang di-share dengan orang lain. Shared flat dan shared apartment, hampir sama, hanya saja shared flat lebih murah dan lebih kecil space-nya dibandingkan dengan shared apartement.
Biaya-biaya
Selain biaya sewa, ada biaya-biaya lainnya juga yang mesti diperhitungkan antara lain: biaya listrik, air dan gas. Ketiga biaya tadi tidak dibayar per-bulan, seperti di Indonesia melainkan dibayar setiap tiga bulan sekali. Jadi dalam mencari akomodasi di Australia, patut dilihat juga apakah biaya sewa yang ditawarkan sudah termasuk bill atau tidak (shared bills). Satu tips lagi yang tidak kalah pentingya adalah, tips dalam menghitung biaya sewa per-bulan. Biasanya akomodasi di Aussie menawarkan sistem perhitungan per-minggu dengan pembayaran per-bulan. Logikanya dalam 1 bulan ada 4 minggu, berarti biaya per-bulan adalah 4 x biaya sewa per minggu. Tapi ternyata perhitungannya tidak seperti itu, melainkan dengan cara biaya sewa per minggu di-setahunkan untuk kemudian dibagi dengan 12. Ilustrasinya sebagai berikut: Biaya sewa 1 minggu 135 dollar. Ini berarti biaya sewa sebulan adalah: 135 dollar x 52 minggu = 7,020 dibagi dengan 12 bulan = 585 dollar. Bukannya 135 dollar x 4 minggu = 540 dollar.
Furnished/Unfurnished
Hal yang penting untuk diketahui lagi adala “isi” dari akomodasi kita. Istilahnya fully furnished-jika semua perlengkapan tinggal sudah ada dan unfurnished alias masih kosongan. Implikasinya jelas ada. Kalo menempati yang unfurnished, artinya kita harus cari-cari barang untuk isi tempat tinggal kita. Dan gak lupa, saat kita lulus nanti, kita juga harus meninggalkan akomodasi dalam keadaan kosong, alias barang-barang kita juga harus kita jual. Karena Melbourne adalah kota pelajar, gak sulit kok mencari2 barang-barang untuk mengisi akomodasi tersebut terutama barang-barang yang second hand. Harganya terjangkau dan baik kondisinya. Untuk yang kuliah di Monash, ada fasilitas Monash Market Place di intranet Monash. Itu tempat para mahasiswa bertransaksi, mulai alat-alat rumah tangga, handphone, kompter, printer, buku, sampai dengan mobil!! Heheh. Selain itu jangan juga remehkan garage sale! Wah, itu banyak banget barang-barang bagus dijual dengan harg sangat murah. Jadi jangan khawatir, kalo mau teliti dan jeli, uang bisa dihemat dan dapat barang-barang bagus.
Tips lain-lain
- Jika anda tidak akan mengendarai mobil, pastikan bahwa tempat tinggal anda dekat dari kampus. Jika tidak dekat dari kampus, pastikan bahwa tempat tinggal anda dekat dengan jalur transportasi publik (trem, bus atau train). Yang paling ideal adalah dekat dengan train station. Karena train bisa beroperasi sampai dengan pukul 02.00 pagi.
- Selain dekat dengan kampus, pastikan juga bahwa tempat tinggal anda dekat dari pusat perbelanjaan (asia). Atau paling tidak dekat dengan jalur transportasi menuju pusat perbelanjaan tersebut. Di Australia tidak ada warung tegal (warteg), warung sayur-mayur (adanya milk-bar, hanya menjual kebutuhan kering-keringan saja). Jadi penting untuk dekat dengan pusat perbelanjaan, karena minimal seminggu sekali anda harus berbelanja untuk memasak. Kecuali anda tidak mau masak dan tinggal beli di restoran.
- Ada akomodasi yang mensyaratkan bond (uang jaminan) sebesar 1 bulan sewa. Pada akhir kontrak sewa, bond tersebut akan dikembalikan. Utuh atau tidaknya tergantung dari perawatan anda terhadap properti yang anda sewa. Jika kurang lebih sama kondisinya dengan saat anda pertama kali sewa, maka bond akan dikembalikan penuh.
Sepertinya itu dulu edisi Bertahan di Sini: Mencari Tempat Singgah. Jika ada pertanyaan silahkan kirim email ke: markv_bommel@yahoo.co.uk
Selamat berjuang!
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Thursday, March 16, 2006
Live in Imperfection
Saturday, March 11, 2006
IRALOVA (Kau Selalu Ada..)
Iralova apa kabar kau di sana?Aku harap engkau tak pernah lelah dalam menantiku berkelana
Membaca tulisan-ceritamu membuat benakku segera merindumu
Iralova, aku memang belum segera pulang, tapi aku ingin kau tetap menungguku dengan senyuman itu
Sabarlah dalam doamu, hingga sang waktu mempertemukan kita kembali.
Iralova, masih banyak yang masih harus kucari, demi bahagiakan hidupmu nanti……….
Masih terbentang asa yang engkau kejar pula, demi cerahkan hidup indah ini….
Aku tahu kisah ini terasa berat di pundakmu, karena keterpisahan ini pun terasa sesak di dadaku. Tapi aku yakin engkau tidak akan pernah meratapinya.
Dingin dan teriknya dunia ini akan terasa ringan bila kita terus tersenyum dan bersama-sama menghadapinya, itu nyanyian yang selalu engkau suarakan kan?
Iralova, sepenuh hatiku,
seandainya bila aku bisa memilih, jelas aku memilih untuk terus bersama kehangatan genggaman tanganmu.
Derai-derai lirih rindu ini terkadang membuat kita berat dalam menapaki hari, tapi aku tahu kita pasti bisa bertahan.
Kisah hidup insan di dunia memang tidak akan pernah sama, seperti halnya beragam takdir manusia satu sama lain. Tak kan pernah menyesal!
Tak kuasa melukisnya dalam untaian kata-kata, izinkan aku untuk meminjam lirik puitis sebuah tembang ini:
Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu..
Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu
Karena langkah merapuh tanpa dirimu…
Karena hati telah letih…
Aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau sentuh
Aku ingin kau tahu bahwa ku selalu memujamu
Tanpamu sepinya waktu merantai hati..
Bayangmu seakan-akan………
Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku padamu.
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada…
Iralova, terus berdoa untuk-ku...juga untuk kita
Jangan pernah berhenti untuk bersyukur atas semua keindahan dunia yang telah kita rasakan
Kelak jika semuanya telah terlewati, kita akan bersama-sama mengenangnya dalam sebuah kecerahan senyuman..
Did You Know?
- Orang Australia paling gemar mempersingkat suatu kata dalam bahasanya menjadi suatu kata yang lebih enak didengar . Berikut beberapa contohnya: Aussie untuk Australia, Brickie untuk Bricking (Pekerjaan bangunan), Britty untuk British, Barby untuk Barbecue, Mozzy untuk Mosquitos, Donnie untuk Doughnut (US: Donut) dan Footie untuk Football (Australian Football bukan Soccer!).
- Omong-omong soal istilah Soccer, di seluruh dunia, hanya tiga negara yang menyebut sepakbola dengan sebutan soccer (bukan football) yaitu: Australia, Selandia
Baru dan Amerika Serikat!! - Masih menyangkut Footie, orang Australia ada kemiripan dengan orang Inggris. Footie dianggap agama oleh mereka. Bahkan dengan bangga mereka mengklaim "Australian Rules Football", yang tentu saja menjadi ejekan bagi negara-negara lain, karena tidak ada kamusnya Australia unggul dalam sepakbola (soccer). Tapi tentu saja yang dimaksudkan oleh orang Australia, istilah itu adalah untuk Footie or Australian Football. Dasarr....
- Dan gara-gara Australia untuk kedua kalinya dalam sejarah lolos ke Piala Dunia Jerman 2006 (sebelumnya di Piala Dunia 1974), maka siaran sepakbola Piala Dunia akhirnya disiarkan juga di televisi Australia, tepatnya di channel SBS, yang notabene rating-nya paling rendah di antara stasiun televisi yang lainnya.
Friday, March 03, 2006
A DEBUTANT's STORY





Saturday, February 25, 2006
Back to Business
It was "Introduction to Business" as my first ever lecture in the college. The couse was lectured by Mr. Harsono. Surely it was 8 years ago tough.
2002 (First Quarter)
It was "Internal Audit" as my very last lecture I attended in Gadjah Mada University before I graduated. It was lectured by Mrs. Zuni Barokah. And it was about 4 years ago.
2002 (Last Quarter)
My debut as as a white-collar worker- as an auditor. PT Telkom Tbk in Bandung as my first client. The audit team was lead by Mr. Bayu. A little step for a man, but it was a giant step for a warrior of life.
2005 (November)
My very last contribution as white collar-worker was in UNICEF. An institution that I served only for 6 months yet has given me much experience and knowldege as well as confidence.
2006 (February, 27)
Back to Business. It's gonna be my first day in Graduate School of Business-Monash Uni. Probably, "Financial Statement Reporting & Analysis" will be the first ever lecture in my tertiery education. I am in a mixed feeling actually, in between anxious & exciteable. Nevertheless, I knew that the show must go on, the way has to be taken and passed. Undoubtedly, it won't be smooth nor walk over for me as the standard for a master student is pretty much high.
Back to Business. With all of the scary evidence, I need a lot of support to pass this windy road. I suppose that support can make difference. With it, I believe that I can overcome this challenge as like as I trust that the sun will rise enchantedly tommorow morning!!
Did You Know?
Hasilnya?
Silahkan lihat fotoku dengan latar belakang Flinders St. tersebut. Sepintas lalu, kubah-kubah hijau bangunan tersebut dan tipe jendelanya memang bergaya India bangettt…^_^
Pada kenyataanya, desain bangunan stasiun yang juga berdampingan dengan sungai Yarra itu, adalah hasil desain dari Melbourne Transport Office yang memenangkan perlombaan desain untuk Station tersebut.
Monday, February 20, 2006
Izinkan Aku Untuk Gentar...

Waktu aku kuliah, aku pengen cepat-cepat kerja..
biar punya uang sendiri dan membanggakan keluarga, ucapku...
Waktu aku kerja, aku cepat bosan dengan kenyataan hari-hari yang standar
tak ada tantangan...gak ada karier, gak ada prospek, terlalu teknis atau supervisor yang reseh..
Aku ingin sekolah lagi...
Sang waktu pun membawaku ke kesempatan untuk menimba ilmu kembali..
tapi tiba-tiba aku gentarr..
menghadapi kenyataan di persaingan akademik yang multinasional dan multikultural
lebih sulit dari kuliah zaman dulu, karena sekarang dalam bahasa yang berbeda
dan juga strata yang beda..
Aku Gentar...
mundur selangkah dan sedikit menunduk..
aku kehilangan daya lontar dan hulu ledak semangat yang biasa aku andalkan
Ditambah kenyataan aku seperti berjuang sendirian di sini..
tanpa ayunan langkah pasti ke depan, tanpa topangan kenyataan asa yang nyata
Aku Gentar...
ketika harus berderap memasuki bangku kuliah lagi..
ketika aku harus mengarungi malam dalam diskusi-diskusi akademis
saat aku harus bergumul dengan ekstraksi keseriusan

Perlahan sangat pelan
Cahaya bulan masuk di sela-sela jendela kamarku..
memeluk tubuh kecilku dalam kehangatannya yang khas..
seolah berkata lirih...
Kuizinkan engkau untuk gentar.....TAPI..sekali ini saja..
Sejurus kemudian aku terbangun dari mimpi indah buaian negeri asing ini
sudah saatnya berdiri mencari jawaban kegelisahan jiwa
Akan aku telusuri jalan yang setapak ini ...
Semoga aku temukan jawaban-jawaban itu...
Saturday, February 18, 2006
Dasar Dodol..!!
Maint The Crims..gak ada kemajuan..
Masak, lupa matiin kompor: ayamnya gosong, pancinya rusak..
Beli barang kelontong, salah beli..mahal en gampang rusakk..
Jemur baju: gak kering-kering; gak ada panass..
Enakan juga tidurr...semoga besok hari tersenyum lebih ceriaa..
Caulfield 8.36PM
Did You Know?*
Masakan melayu cukup terkenal di Maladewa ternyata. Menurut seorang temanku yang berasal dari negara tersebut, menu bernama “Nasi Goreng” untuk fried rice dan “Bakmi Goreng” untuk fried noodle adalah menu yang sangat populer di sana. Kemungkinan besar menu tersebut dipopulerkan oleh para mahasiswa Maladewa yang banyak menuntut ilmu di Malaysia.
- Tidak hanya di makanan, nama mata uang Maladewa, ternyata juga beda-beda tipis dengan mata uang Indonesia. Mata uang Maladewa adalah “Rufiah” hanya beda sedikit dengan “Rupiah”nya Indonesia.
- Vietnam yang luasnya kurang lebih sama dengan pulau Sumatera di Indonesia dan memiliki populasi 80 juta orang, ternyata memiliki 62 Propinsi!! Bandingkan dengan Indonesia yang hanya memiliki 33. Jadi propinsi kita perlu ditambah tuh :p
- Menghitung usia seseorang di Vietnam, ternyata bukan pengurangan antara tahun berjalan dengan tahun di mana seseorang dilahirkan. Menurut seorang rekanku yang berasal dari negara tersebut, umur seseorang juga harus memperhitungkan lama orang tersebut di dalam kandungan. Jadi jika aku lahir bulan April tahun 1980, maka usiaku di bulan April tahun 2006 adalah 26 tahun 9 bulan!!
*posting-an "Did You Know?" ini berisi tentang hal-hal kecil namun unik di seluk budaya bangsa yang ditemui olehku, akan di-upload Insya Allah setiap sabtu seminggu sekali.
Tuesday, February 07, 2006
Surat Untuk Sahabat
To: Sahabatku di 16 Penjuru Mata Angin.
Dear Sahabat!
Di tengah desiran angin dingin kota Melbourne, tepat, di antara matahari yang beranjak pulang, aku tiba-tiba teringat akan keriuhan kalian. Sungguh, aku teringat akan “Kita” dan beragam perjalanan panjang yang selalu kita lalui bersama.
“Kita untuk selamanya”….”Semua waktu yang hilang…tapi bayangmu tetap”….itu kata Peter Pan saat menyanyikan cerita tentang “Sahabat”, sementara Sheila on 7 memilih syair…”Tapi teman lebih dari sekedar materi…..” dalam “Sahabat Sejati”…………tak mau kalah, Jikustik dalam “Aku dan Sahabatku” meyakini bahwa persahabatan “………tidak akan pernah layu, hanya aturan sang waktu……..”.
Jelas, aku tak sepandai mereka dalam membuat syair-syair nan indah, aku hanya ingin bilang bahwa kenangan yang pernah kita lalui adalah sebuah kenangan yang indah dan mengesankan. Persahabatan kita bukan karena materi atau kegilaan pada sebuah simbol tertentu. Persahabatan kita dibangun oleh banyak perbedaan yang dilengkapi dengan rasa pengertian dan saling menyayangi. Tak heran, begitu banyak gurat-gurat cerita indah yang terus terkenang di benakku.
Mungkin kalian masih ingat saat kita berbagi gelak tawa dalam kepusingan mengerjakan tugas-tugas kuliah di waktu lampau. Mungkin kalian masih ingat tentang hebohnya kita dalam kepanitiaan di kampus. Aku juga yakin kalian masih tentang obsesi dan mimpi kita untuk mewujudkan mimpi menyelenggarakan acara mahasiswa paling meriah dalam sejarah. Aku juga yakin kalian masih ingat saat kita makan nasi kucing di pinggiran kota Yogya. Atau sekedar bermalam bersama di tengah dingin Kaliurang dan Tawangwangu. Aku juga masih ingat saat kita berbagi kekhawatiran tentang masa depan dan dunia kerja. Kalian juga tidak akan lupa, saat kita sama-sama rapuh ditinggal orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Sejuta ingatan-ingatan itu tiba-tiba menghangatkan aku di gigilan dingin cuaca kota. Satu lagi..aku juga tak kan pernah lupa bagaimana perjuangan “heroik” kalian untuk mengunjungi acara pernikahanku di Bandar Lampung tahun lalu, ITS PRICELESS…!!
Tapi kita sudah terpisah dalam ruang waktu. Terpisah dalam cita dan mimpi kehidupan yang telah dan akan dibangun.
Bagi kalian yang tengah mengarungi biduk perjalanan kehidupan rumah tangga, tak ada doa lain, selain agar kalian tegar dan kuat dalam mengarungi deburan gelombang yang pasang surut.
Bagi kalian yang terus dan terus mencari Sang Mentari Pagi, tak akan pernah aku berhenti berucap agar kalian segera menemukannya. Meminjam jargon teman baruku di sini…”Perfectionist waits forever” …….aku selalu memahami alasan kalian, karena kalian adalah para perfeksionis.
Bagi kalian yang terus mencari Bintang dari Surga, tak kenal lelah aku berharap agar kalian segera membawanya ke pelukan kalian. Terkadang, sang Bintang memang enggan untuk engkau gapai, tapi jika sampai waktunya, sebuah penantian panjang pun kelak akan membuatnya turun ke bumi menemui kalian.
Bagi kalian yang terus dan terus berjuang untuk mencari sebuah pengakuan hidup, aku akan selalu memberi dorongan tiada henti buat kalian.
Oh ya, Sahabat, supaya engkau juga merasakan kerinduan yang sama denganku, ini aku sertakan pula foto di mana kita pernah bersama. Tidak semua dari kalian ada di foto itu memang, tapi kalian-kalian yang tak termuat, akan selalu ada di hati dan benakku kok. Oh ya, itu kurang lebih 6 – 7 tahun yang lalu. Tidak terasa yah?
Terakhir,
Di mana rentang jalan dan pengalaman yang telah kita lalui bersama, terkadang aku ingin kalian juga berada di sini, merasakan pengalaman yang aku dapatkan. Jika kebersamaan di Yogya, Surabaya, Bali dan Lampung bisa juga disalin di Melbourne, wahh…kelak, benar-benar akan menjadi sebuah “Kisah Klasik Untuk Masa Depan” …
Salam hangat dari hati yang rindu akan keriuhan kalian,
gatots
Australia Day
Alasan Aussie Day
Kuliah di Aussie bukan berarti bahwa aku akan menghabiskan waktuku untuk melulu belajar dan belajar. Ada kalanya juga perlu untuk menjadi turis partikelir. Itulah yang aku lakukan pada tanggal 26 Januari 2006 yang lalu. Bagi bangsa Australia, tanggal 26 Januari diperingati sebagai Australia Day atau semacam hari kemerdekaan di Indonesia. Namun demikian, Australia tidak pernah mengenal hari kemerdekaan karena mereka bukanlah berasal dari bangsa yang lepas dari penjajahan. Lalu mengapa tanggal 26 Januari? Menurut sejarah, pada tanggal 26 Januari 1788, rombongan koloni pertama dari Inggris tiba di Australia. Rombongan tersebut terdiri dari 11 kapal dan membawa kurang lebih 1500 orang, setengahnya adalah convicts (narapidana).
Berangkat
Kembali ke perayaan Australia Day, seperti halnya hari kemerdekaan di negara lain, Australia Day adalah public holiday. Aku sudah bersiap-siap dari pagi untuk melihat perayaan ini di City. Sebagai tambahan, aku sebut di City, karena aku tinggal di sub-urban yaitu Clayton, kayak di Depok gitu deh, kira-kira 40 menit perjalanan dengan train. Berbeda dengan aku, rekan-rekanku yang lainnya tidak terlalu bersemangat untuk melihat perayaan tersebu, alasannya menurut ramalan cuaca, suhu di Melbourne akan mencapai 40-42 derajat celcius. Selain itu, karena public holiday, transport menuju City akan sedikit jarang dibandingkan dengan hari biasa. Pada akhirnya mereka akan kecewa, karena perayaannya seru dan heboh, kendati memang perkiraan cuaca benar, Melbourne panas luar biasa pada hari itu. But it’s worth to go to the celebration rather than staye at home.
Telat nyampenya Di Balaikota
Aku berangkat agak kesiangan, karena hari Rabu-nya habis bermain sepakbola bersama rekan-rekan student dari China. Aku berangkat dari rumah pukul 10.20. Baru dapat bus menuju Clayton Train Station pada pukul 11.00. Walhasil, aku baru sampai di City pukul 12 kurang. Ternyata, di pagi hari, ada semacam upacara di Balaikota (“Australia Day Flag Raising Ceremony”), lumayan rame kata temanku, yang kemudian dilanjutkan dengan acara karnaval kota (“Australia Day People’s March”) antara jam 11 – 12. Lumayan rame pesertanya. Selain warga Australia, juga ada warga asing yang tinggal di kota ini, seperti Arab, India, Srilanka, China, termasuk Indonesia. Karnaval selesai sekitar pukul 12.30, jadi aku masih kebagian nonton karnavalnya.
Kings Domain Garden
Setelah bergabung bareng beberapa rekan2 students Monash dan Melbourne Uni yang ketemu di sana, kami melanjutkan perjalanan menuju Kings Domain Garden. Di mana ada beberapa perayaan seru di sana yaitu: ‘Australia Day Picnic and Historic Vehicle Display” , “26 ers Birthday Cake Cutting”, sayangnya pas aku ke sana, acaranya sebagian belum di mulai, jadi akhirnya kita ubah haluan menuju Government House, yaitu tempat ngantornya Governor Victoria (tapi dia ini bukan Head of State, melainkan hanya perpanjangan tangan dari Governor General di tingkat National – yang kayak fungsi Gubernur di Indonesia itu disebut dengan Premier – lain waktu bakal diceritakan deh tentang system politik di Aussie). Governor house-nya benar2 classic dan classy deh. Lumayan seru juga mengelilinginya. Sayangnya, karena itu udah tengah hari, bertepatan dengan jadwal lunch, perut udah gak bisa diajak kompromi barang sebentar. Tapi, aku masih sempat menikmati es krim sambil duduk di taman government house sebelum akhirnya kita makan siang di Restoran Nelayan (Resto Indonesia) di dekat Bourke Street.
Waterfront City, Docklands
Selesai makan siang kurang lebih pukul 15.30, matahari lagi tinggi-tingginya tuh. Rasanya badan lemas dan haus terus, tapi tekad membara buat jalan2 lihat perayaan membuat tubuhku kembali segar dan bersemangat. Akhirnya diputuskan bahwa kita bakalan jalan ke Waterfront City, Docklands, tempat “The Melbourne International Dragon Boa Festival”, “Australian Offshore Powerboats” dan “Boating Victoria Motor Cruiser Rally”. Semuanya gratis buat kita nikmati. Di tengah terik mentari, kita akhirnya sampai di Docklands. Menurut teman seniorku dari Melbourne Uni, sebenarnya Docklands, yang terlihat seperti pelabuhan itu, tidak lain dan tidak bukan hanyalah pangkalan sungai belaka. Sungainya juga adalah Sungai Yarra yang memang sengaja dibendung untuk membikin “pelabuhan ala Melbourne”. Di Docklands ini konsep Waterfront City benar-benar diterapkan di mana selain “pelabuhan” juga didirikan berbagai restoran pinggir sungai, mall dan juga hotel.
Aku sangat menikmati Docklands, hingga waktu pukul 18.00 “memaksa” kami untuk pulang terlebih dahulu ke tempat temanku di Brunswick guna menunaikan shalat dan beristirahat barang sebentar, sebelum malamnya (pukul 21.15), melihat pesta kembang api di Federation Square.
Fireworks di Federation Square
Setelah berisitrahat sejenak di Brunswick, pukul 20.40, kami bergegas menuju Federation Square via Train. Sampai di Flinders Station (yang nota bene bersebrangan dengan Fe. Square), suasana malam sudah berubah menjadi hiruk pikuk dengan masyarakat Melbourne yang ingin menyaksikan “Fireworks Shows”. Setengah berlari kami langsung menuju Federation Square, namun menurut informasi dari orang2 di sana, pertunjukannya akan lebih bagus jika dilihat dari sudut Northbank-nya Yarra River. Tidak mau ambil risiko kehilangan momen, kami segera menuju Northbank yang memang telah penuh dengan orang-orang. Selang 2 menit setelah tiba di Northbank, suara gemuruh kembang api pun terdengar…wawww…kami tepat berada di bawah kembang api tersebut!! Suaranya keras dan memekakkan telinga, namun pemandangan kembang api itu sangatt indah dan “magical”…sayang buat dilewatkan. Pertunjukan tersebut terdiri dari 2 titik satu di Federation Square sebelah Utara dan satu lagi di sebelah Selatan. Saking dekatnya dengan kembang api, bubuk2 kembang api itu terasa jatuh di badan kami, wuuuiihh….tambah seru aja sensasinya…fireworks shows-nya berlansung kurang lebih selama 10 menit dan konon menghabiskan biaya 500,000 dollar Aussie atau setara dengan 3,5 milyar rupiah!!!
Menyusuri Yarra River di Waktu Malam
Selesai melihat fireworks shows, kami menikmati sebentar keindahan Sungai Yarra di waktu malam, yang mana di sungai tersebut banyak restaurant terapung, berwarna-warni lampunya, sambil berlalu lalang, sungguh pemandangan yang indah. Tidak lupa pula pengamen2 bule menarik perhatian pejalan kaki dengan lagu2 yang melanutkan jiwa. Juga ada street artist yang melukis jalur pedestrian dengan lukisan2 yang menarik…wooww..benar2 kayak di luar negeri, hehehe.
Crown & Total Fire Ban
Jam di tanganku menunjukkan pukul 22. Atas side salah seorang teman, kami berniat menuju Yarra Southbank tepatnya ke Crown, sebuah kasino di Melbourne yang berfungsi juga sebagai tempat hiburan dan wisata. Menurutku temanku, setiap 1 jam sekali di waktu malam, di sana ada penyalaan api di kalderon, hampir layaknya api di pembukaan pesta-pesta olah raga bangsa-bangsa.
Namun demikian, sampai dengan pukul 22.30, api tidak juga kunjung menyala, setelah kami tanyakan ke petugas sekuriti di sekitar Crown, ia mengatakan bahwa penyalaan api malam itu dilakukan karena ada “Total Fire Ban” dari Victoria Government. Ini dikarenakan suhu yang mencapai 40 derajat, sehingga dilarang menyalakan api di tempat terbuka sepanjang hari, untuk mencega terjadinya kebakaran.
Fireworks di Docklands dar Kejauhan
Dengan sedikit kecewa kami akhirnya beranjak pergi dan menuju kawasan Docklands, daerah di mana siang/sore tadi kami menyaksikan Dragon Boat Festival. Tujuan kami ke Docklands adalah menyaksikan pertunjukan kembang api yang kedua, yang menurut brosur acara, akan diselenggarakan pada pukul 23. Sayangnya saat kami dalam perjalanan, sekitar pukul 22.45, pesta kembang api sudah dimulai, akhirnya, kami hanya bisa melihat pesta kembang api di Docklands dari kejauhan saja, tepatnya dari Spencer Street Station. Hmmm….kalah keren sih dari yang di Federation square, tapi tak apa, yang penting, kami masih bisa menyaksikannya dari kejauhan…^_^
“Java Chip” Cofee
Petualangan kami di hari itu akhirnya ditutup dengan minum kopi di Starbuck dekat Elizabeth Street. Sambil menyeruput “Java Chip” kami menikmati keindahan Melbourne di waktu malam. Oya, harga segelas "Java Chip" Starbuck ukuran Medium, harga A$5.20. 1A$=7,000, itung aja sendiri harganya dibandingkan dengan harga di Indonesia, hehehe.
Pesta telah usai, banyak kesan yang didapat…aku jadi teringat 17 Agustusan di Indonesia…well, kita juga gak kalah serunya kok..mungkin perlu sedikit tambahan sentuhan di sana-sini, maka 17 Agustusan kita, gak kalah dengan Australia Day, hehehe..
See you next year!!
For my Aussie Day Photo:
http://pg.photos.yahoo.com/ph/gatot_soepriyanto/album?.dir=e281&.src=ph&store=&prodid=&.done=http%3a//photos.yahoo.com/ph//my_photos
Sunday, February 05, 2006
Titik, sejatinya adalah komponen penting bagi sebuah catatan panjang setiap mahluk yang bernafas. Tanpa titik tentu tidak akan pernah ada garis. Tanpa titik tentu tidak akan pernah ada awalan guna membentuk sesuatu pola. Lebih jauh lagi, tanpa titik maka suatu kalimat atau pernyataan tidak akan pernah berhenti pula. Namun demikian, jangan pernah Anda membandingkan Titik-titik tadi dengan Titi Kamal apalagi Titi DJ dan Titi Qadarsih….secara mereka berbeda haluan.
Kembali ke masalah titik…
Begitu pula dengan perjalanan getaran kakiku dalam 1 tahun terakhir ini, selalu penuh dengan titik perjuangan dan pencarian. Sejujurnya, tidak ada yang istimewa, karena memang aku hanya pejuang kecil kehidupan. Namun demikian, untuk diriku, penggalan titik perjuangan tersebut, sangat penting untuk sekedar dituangkan dalam baris-baris renungan paragraph. Sehingga kelak, seiring dengan waktu yang terus berputar, mungkin titik-titik yang aku lalui ini akan membuat aku tersenyum dan tertawa (atau bahkan menangis), tatkala aku membuka kembali lembaran cerita tersebut. Yuk kita mulaiii…
Titik awal.
Titik awal ceritaku di mulai di tahun 2005. Titik awal di tahun 2005 tersebut, dimulai dengan semangat resolusi untuk lebih “ofensif” dalam mencari peluang beasiswa, kemanapun itu…dengan catatan ke “English Speaking Country”. Semangat tersebut terlihat klise dan standar, namun disadari atau tidak resolusi tadi ternyata telah mampu menjadi sebuah energi yang tidak pernah habis untuk mencapai kesuksesan di tahun 2005.
Titik Nadir
Berangkat dengan semangat yang membumbung tinggi di awal tahun 2005, lewat sebuah proses perenungan yang tak terlalu panjang, aku pun berpindah organisasi (baca: pindah tempat kerja), dari B ke C. Layaknya takdir yang telah ditulis oleh Sang Maha Kuasa, perpindahan ini serasa lancar dan sesuai dengan yang aku rencanakan. Nama besar kedua organisasi tersebut aku harapkan kelak dapat menarik perhatian para sponsor beasiswa. Namun demikian, harapan terkadang tidak terlalu sesuai dengan kenyataan. Periode April – Oktober 2005, selama aku di C, adalah periode penuh perjuangan dan boleh disebut penderitaan. Bukan hanya tipe pekerjaan dan organisasinya yang berbeda, namun juga tuntutan, beban kerja dan kerumitan birokrasi juga harapan yang disandangkan di pundakku terlampau berat untuk aku pikul. Periode titik nadir ini sangat tidak mudah aku lalui, tidak beda seperti periode tahun 2002-2003 di mana aku masih perusahaan angkutan publik A. Belajar dari pengalaman yang lalu-lalu, aku berusaha tegar untuk menghadapi tantangan di C ini. Aku juga berkeyakinan bahwa di balik kesusahan pasti ada kemudahan, di balik kesulitan pasti ada kelancaran. Lagian dari waktu ke waktu, aku mulai bisa beradaptasi dengan situasi yang ada. Namun tetap saja, tekad yang kuat dan doa terus aku panjatkan agar aku dapat menguak peluang untuk “melarikan diri” secara elegan dari C.
Titik Balik
Titik balik ini aku alami saat aku tengah merenung di “religious center” organsisi C, orang mungkin menyebutnya pengalaman spiritual, namun aku menyebutnya renungan saja, lebih cocok rasanya. Kembali ke renungan tadi, entah mengapa, saat itu, aku tiba2 terpikir untuk mengambil kursus IELTS di IALF selepas bekerja di kantor. Sudah menjadi rahasia umum, jika bahasa Inggrisku memang agak2 minim. Hasil renungan itu kemudian aku amini, karena memang itu termasuk dalam salah satu strategiku untuk “ofensif”. Tambahan lagi, supervisorku di kantor sedang berlibur ke Nairobi selama 1 bulan, “ini kesempatan yang tidak boleh dibuang percuma”, ujarku dalam hati. Mulai periode Juli – Agustus 2005 aku pun kursus IELTS, dengan investasi kurang lebih 2,5 juta selama 1 bulan, belum termasuk ongkos transport lohh. Dalam periode tersebut, titik balik di tahun 2005 itupun hadir…informasi tentang beasiswa ke Aussie dari APS (Australian Partnership Scholarship) aku dapatkan– thanks to Ms. H, my officemate who informed it to me. Lewat perjuangan dan pergulatan yang panjang (terlalu panjang jika harus dimasukkan dalam cerita ini, termasuk ada rekan kursusku di IALF yang menunjukkan beberapa tips guna masuk dari shortlist APS, temanku ini pada akhirnya juga mendapatkan beasiswa, sebut saja Mr. Ich), akhirnya aku pun memasukkan application untuk beasiswa tersebut. Syukur Alhamdulillah, sekitar bulan Oktober, aku mendapatkan berita bahwa aku berhasil melalui tes beasiswa tersebut (cerita mengenai lika-liku tes, akan disampaikan di cerita terpisah). Sebuah kisah klasik yang indah dan tak akan terlupa. Bukan semata-mata karena aku akan mendapat kesempatan untuk sekolah lagi dan pergi ke luar negeri, melainkan menjadi sebuah kemenangan akan keyakinan bahwa seberapapun tinggi mimpi yang kita miliki, jika kita selalu berusaha untuk menggapainya, maka kita pun akan berhasil meraihnya. Impossible is NOTHING, mate!
Titik Kritis
Seperti tulisan Paulo Coelho di novelnya “The Alchemist”, jika keinginan sudah ditekadkan dengan bulat, maka isi seluruh jagat raya akan bersatu untuk membantu mencapainya. Itu semua karena semua orang memiliki “personal legend” yaitu suatu tujuan dalam hidup yang ingin dicapai – dengan kata lain jalan menuju takdir. Berkaitan dengan itu, titik kritis dalam perjalanan hidupku-pun aku lalui dengan jalan yang terasa lancar dan mengalir bagai air. Titik kritis yang aku maksud adalah menikah. Kata sakti dan sakral juga rumit itu seperti tidak terasa simpel di depanku. Sadar bahwa momentum kepergianku ke Australia harus segera dimanfaatkan, aku pun mengambil keputusan untuk segera menikah. Alhamdulillah, semuanya serba dilancarkan dan dimudahkan, tepatnya tanggal 17 Desember 2005, aku pun menikah dengan “Fatimah”. Semua proses dicapai dalam waktu kurang lebih 30 hari, mulai dari lamaran, persiapan, sibuk-sibuk sampai dengan pesta. Lebih membanggakan lagi, semuanya kami urus sendiri dan menggunakan uang dari keringat kami sendiri. Tidak perlu mewah dan mahal memang, tapi yang terpenting adalah mengumpulkan keluarga, kerabat dan sahabat untuk mendoakan kami. Selesai…^_^.
Titik Harapan
Pesta telah usai, kini saatnya menyongsong fajar baru kehidupan. Saatnya untuk melukis titik fajar harapan yang baru. Ayunan langkah pertama adalah memulai petualangan ke dunia baru yang penuh tantangan: AUSTRALIA. Berangkat ke Aussie, bukanlah seperti parade gagah-gagahan, melainkan lebih kepada sebuah tantangan dan amanat. Di sana aku akan belajar banyak hal, tidak hanya mengenai materi kuliah namun juga tentang aspek bahasa, budaya, lingkungan, tata pemerintahan, interaksi sosial dan banyak hal lagi.
Jika ditanya bagaimana rasanya, maka yang ada hanyalah perasaan takut, waswas dan cemas. Hanya impian besar dan semangat tinggi untuk hidup di bawah langit dan di atas bumi selain Indonesia sajalah, yang terus membuatku bertahan. Sampai di satu titik, aku benar-benar telah berpijak di belahan bumi lain, yang bahkan sampai saat ini masih terasa bagaikan mimpi.
Lebih jauh lagi, tidak hanya berhenti sampai di masalah studi, di mana titik harapan aku goreskan, selain itu juga ada titik harapan lain, yaitu sebuah kebersamaan hidup. Sebuah peleburan jiwa, hati dan impian. Bukan sebuah beban dan onak kebingungan melainkan sebuah tantangan dan riak keriangan. Sesulit apapun, aku yakin titik harapan ini akan berujung pada sebuah titik optimum (bukan maksimum apalagi minimum) kehidupan….
Titik-Titik…….
Sampai akhir napasnya, seorang manusia tidak akan pernah berhenti menggoreskan tinta cerita di lembar nafas perjuangan hidupnya. Hanya Tuhan yang dimana titik itu akan berhenti dan beranjut di lembaran nafas yang baru. Ketika titik itu belum akan berhenti, titik-titik ceritaku akan terus bergulir dan bergaris. Masih banyak kerja dan teka-teki hidup yang harus di-lalui. Menyitir lirik soundtrack “Gie”,……….” tak kan pernah berhenti berjuang…..pecahkan teka teki malam…….menjawab semua keresahan yang membentang…….”. Kini, aku sedang merangkai titik-titik itu, hanya waktu yang akan menentukan akan menjadi apa titik-titik itu. Sampai waktunya, semua akan diceritakan kembali, dengan penuh perasaan rendah hati, semoga bisa menjadi pelajaran, semangat dan rengkuhan asa bagi diriku dan mungkin orang lain.
Selalu berjuang..!
Thursday, October 06, 2005
Syukurku..
Kepadamu ya Allah..aku tundukkan kepalaku..
aku tundukkan kesombongan dan angkuhku...
Karena
Sekali lagi Engkau tunjukkan jalan kepadaku untuk menggapai cita-cita.
Untuk kesekian kali Engaku ulurkan tanganMu kepada hambamu yang penuh dosa dan noda ini..
Syukurku...atas semua kemurahan hati yang kau berikan...
Sampai nafas ini terhembus untuk yang terakhir..
aku masih selalu membutuhkan uluran tanganMu..





