Monday, October 29, 2007

It's a boy!

Just happy to tell you all that a lovable addition to our family has finally arrived on Sunday morning, 28 October, 2007 in RSIA Hermina Depok. He weighed 3100 grams and was 48 centimeters tall. Interestingly enough, he was born in the same date of Youth Oath Day (Sumpah Pemuda). Therefore, we hope that he grows with the same passion and expectation of the youth at that time.

We agree to name him GAIZKA ANANTASENA. Words can’t express how happy we are over the new addition to our family! Welcome to this world, baby boy!

*Ira & Gatot*

Monday, October 22, 2007

Update!

Berikut beberapa apdet perjalanan mimpiku dalam beberapa bulan terakhir:
1. Lagi menunggu kelahiran anak pertama. Istri sedang memasuki masa-masa akhir fase kehamilannya. Doakan semuanya lancar yah. Secara, aku bakalan absen mendampinginya nanti.
2. Perjuangan setahun terakhir dalam menyusun, meneliti dan menulis thesis-ku sudah berakhir. Tanggal 15 Oktober lalu, thesisku sudah aku selesaikan. Masalah kualitas dan nilai adalah urusan terakhir. Yang terpenting aku berhasil mengalahkan diriku sendiri dan bekerja secara independen dan bertanggungjawab untuk menuntaskannya.
3. Sudah saatnya menyusun rencana pasca kepulangan dari Australia, lengkap dengan berbagai opsi yang mungkin dipilah dan dipilih, karena jadwal kepulangan tanggal 14 Desember 2007, sudah ditentukan. Seperti kata seorang tokoh di film Bourne Ultimatum "Hope for the best, plan for the worst". Semoga nanti diberi kemudahan di Indonesia..:)

Friday, October 05, 2007

T3: Antara Butuh dan Ingin

Hari itu rasanya beda aja. Kok tiba-tiba pengen mbongkar2 laci tempat beragam barang2 elektronikku tersimpan. Bermacam2 barang ada di situ. Mulai dari kamera digital usang yang sudah rusak - tapi masih kusimpan, beragam CD installer, card reader, batu baterai, portable keyboard dan.........apa itu? kok rasanya kenal. Uggh..ternyata PDA Palm Tungsten T3-ku! busett...ternyata aku bawa ke Oz yah? kirain tertinggal entah di mana. Terkejut? jelass. Secara barang ini sangat legendaris banget.

Begini ceritanya. Gadget ini aku beli 3 tahun yang lalu. Zaman masih 'berguru' pada Safir Senduk. Waktu itu, barang ini termasuk produk terbaru dari Palm. Harganya 2.5 juta plus tambahan memory card, jadi 2.8 juta. Terus biar lebih oke, aku juga beli portable keyboard-nya, biar bisa dipake ngetik, maksudnya.Total jendral, aku harus mengeluarkan uang sekitar 3.5 jutaan dari kocekku buat melengkapi barang ini.

Gadget ini lumayan oke loh. Berbagai macam fasilitas MS-Office ada di sana, PDF reader juga ada, entertaiment tools-nya juga lengkap, termasuk Realone player, Kinoma (buat puter film) dan bisa memuat banyak games yang seru. Tak lupa juga tersedia fasilitas organizer dan reminder yang lengkap banget. Sayangnya, barang ini tidak punya Wi-fi connector dan koneksi telefon. Jadinya, pure PDA.

Terus apa hubungannya T3 ini dengan masalah kebutuhan vs keinginan? Ehemm...dulu tuh sebenarnya aku gak butuh2 amat dengan barang ini, tapi karena melihat fasilitas2 yang ditawarkan T3 ini plus melihat si Safir asik memainkan barang mahal tsb, akhirnya aku jadi kepengen juga. Walhasil, aku ikutan beli gadget ini juga. Nah, di sinilah pertentangan antara butuh dan ingin itu terjadi. Namanya cuma kepengen, hebohnya di awal2 doang. Akhirnya, setelah 2-3 bulan, aku jadi bosen dan merasa gak terlalu butuh lagi ama barang ini. Sebabnya, ukurannya terlalu besar untuk masuk kantong plus ketiadaan koneksi telefon, membuat aku harus gembol 2 barang bersamaan, HP dan PDA ini. C spasi D....capek dehhhhhhh

Sekarang, setelah 3 tahun berlalu. Ternyata excitement yang dulu pernah ada muncul kembali. Kali ini bukan hanya ingin dan butuh, tapi juga penasaran. Maklum, semakin berumur (baca: bertambah dewasa), makin banyak yang diurus, diingat dan dicatet. Jadinya, PDA ini sangat berguna buat merekam berbagai catatan aktivitas harianku. Gak kuno tuh PDA? kuno sih enggak, tapi yang pasti udah gak up to date. Tapi bukan berarti aku gak bisa memanfaatkannya. Tokh, ada Mr. Google yang bisa membantuku melengkapi beragam software tambahan di PDA ini, heheh. Sesuatu yang 3 tahun lalu, gak aku ketahui. Tambahan lagi, sekarang ada Wi-fi SD Card, yang bisa ditancepkan di PDA ini, untuk kemudian digunakan untuk berkoneksi internet secara wireless. Singkatnya, dengan pengetahuan dan kebutuhanku yang sekarang, PDA ini jadi jauh lebih terasa bermanfaat. Dan ini terjadi setelah 3 tahun berlalu lohh...^^

Pesan moral cerita ini (ceilleeeeeee), sebelum teman2 membelanjakan uang, selalu ungkapkan pertanyaan ini terlebih dahulu: hmmm..sebenarnya ini kebutuhan atau keinginan yah? Waspadalah...waspadalah.......Hehehe.

Tuesday, September 11, 2007

Ramadhan Sendiri (Lagi)

Wah, tak terasa sudah memasuki bulan Ramadhan lagi. Tak terasa pula, ini Ramadhan kedua di negeri orang sekaligus Ramadhan kedua dengan berstatus suami, hehehe. Sayangnya, untuk kedua kalinya pula, Ramadhan kali ini aku bakal sendirian. Jauh dari istri, keluarga dan kehebohan puasa seperti di tanah air. Tapi gak masalah, seperti kata Phil Jackson "...for every dreams there is a sacrifice", setiap gapaian mimpi, selalu ada pengorbanan yang harus dibayar.

Ramadhan di Australia, jelas gak seheboh di tanah air. Coles atau Safeway tidak mendadak ramai diserbu orang yang berbelanja untuk kebutuhan puasa. Di channel 7, 9 dan 10 juga tidak ada acara-acara berbau Ramadhan. Di jalan-jalan juga sepi-sepi saja, tidak spanduk-spanduk ucapan selamat berpuasa. Dan yang pasti, harga-harga sembako gak ikutan naik, hehehe.

Yang sedikit heboh tentunya adalah komunitas muslim yang ada di Melbourne. Berbagai rangkaian acara sudah disiapkan, antara lain pesantren kilat, kajian rutin menjelang berbuka puasa, buka puasa dan tarawih bareng, persiapan Syawalan sampai pengumpulan zakat fitrah. Meriah deh pokoknya. Oya, satu hal yang pasti, waktu Ramadhan kali ini jatuh di musim semi, sehingga waktu puasanya relatif 'normal'. Subuh sekitar pukul 4.30an sementara Maghrib sekitar pukul 6.20an. Bayangkan dengan musim panas yang mana Maghrib-nya bisa sampai pukul 9 malam.

Akhirnya, Gatot sekeluarga mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Semoga kita semua diberikan kekuatan dan kesabaran oleh ALLAH SWT dalam menjalaninya sehingga kita dapat mencapai derajat TAQWA, aamiin ya robbal alamin.

Sunday, September 09, 2007

Merenungi Sikap Tetangga Serumpun Kita

Rame-rame tentang perlakuan kurang ajar Malaysia terhadap wasit Indonesia beberapa waktu lalu ternyata masih membekas di benak saya. Hal ini tak mengherankan, karena sudah beberapa kali Malaysia membikin jengkel bangsa Indonesia dengan ulahnya yang semena-mena. Lihat saja kasus penyerobotan pulau Sipadan dan Ligitan, klaim sepihak pulau Ambalat, kasus penganiayaan TKI di sana, pengusiran sepihak TKI ilegal sampai pembalakan liar di perbatasan RI-Malaysia. Lalu, kalo sudah begini apa yang mesti kita lakukan sebagai pembalasan terhadap Malaysia?

Ada beragam versi. Teman-teman karateka dan ormas kepemudaan, memilih melakukan demo di Kedubes Malaysia dan melakukan sweeping terhadap warga Malaysia. Komunitas dunia internet Indonesia memilih melakukan penyerangan terhadap berbagai situs Malaysia dengan cara mengubah tampilan situs-situs tersebut (deface) menjadi kecaman –kecaman terhadap Malaysia. Para penggemar sepakbola di tanah air, melanjutkan demonstrasi terhadap Astro TV – perusahaan TV kabel milik Malaysia yang memonopoli hak siar Liga Inggris di tanah air. Sementara para pengamat bidang ekonomi bisnis, menyerukan boikot terhadap bisnis-bisnis Malaysia di Indonesia, antara lain: Excelcomindo (via Khasanah Nasional), Bank Niaga (via Commerce Berhad), Bank Lippo (juga via Khasanah Nasional) serta sektor agribisnis melalui bendera Group Guthrie Malaysia.

Efektifkah tindakan-tindakan pembalasan di atas? Untuk aksi demo saya sepakat, ini utk menunjukkan bahwa kita peduli terhadap nasib rekan sebangsa. Sayangnya, demo anti Malaysia ini kalah populer dibandingkan demo-demo solidaritas Palestina atau anti Israel misalnya. Apakah ini bukti bahwa kita lebih peduli pada bangsa asing dibandingkan bangsa sendiri? Untuk masalah sweeping jelas ini merugikan, karena menunjukkan kita bangsa yang anarkis. Untuk masalah deface, ini okelah, karena efeknya juga tidak terlalu parah, kecuali tampilan situs yang berubah. Lagian ini bisa menujukkan bahwa bangsa yang disebut “Indon” ini juga melek teknologi dunia maya. Untuk masalah pemboikotan bisnis Malaysia, saya juga agak ragu. Hal ini tidak lebih karena masalah kepraktisan saja. Jika anda sudah berlanggan XL, masak harus ganti nomor telefon, kan bikin repot. Sementara bagi anda yang merupakan nasabah Bank Niaga dan Bank Lippo, masak harus memindah dananya ke bank lain? Efek yang lebih jauh lagi, perusahaan-perusahaan tersebut juga mempekerjakan banyak tenaga kerja lokal, jadi perlu dipikirkan juga nasib mereka.

Terus ngapain dong? Menurut saya, untuk sementara ini tidak usalah kita terlalu sibuk melakukan banyak aksi yang aneh-aneh. Lebih baik kita rajin-rajin berdoa saja. Supaya pemimpin bangsa kita diberi kekuatan dalam mengatasi segala masalah yang ada, sekaligus mampu membangun bangsa yang lebih maju dan stabil. Ini penting, karena semakin maju bangsa kita, semakin kecil kemungkinan bangsa kita dilecehkan oleh bangsa lain. Semoga.

Thursday, August 30, 2007

Indoor Soccer (2)

Kompetisi indoor soccer yang aku ikuti sudah memasuki pekan ke 4. Seperti yang pernah aku posting sebelumnya, di pekan pertama, timku "JB" memenangkan pertandingan dengan skor telak 5-1. Tapi sayang, di pertandingan kedua, kendati mendominasi pertandingan dan menciptakan banyak peluang, timku harus menyerah kalah 2-3 dari tim "D'oh" yang mayoritas diperkuat mahasiswa undergraduate Indonesia di Monash. Di pekan ketiga, kami bertemu dengan tim tangguh, "Leach Pickers". Tim ini menurutku adalah tim terbaik di liga kami. Mereka menampilkan permainan menyerang dan kerjasama tim yang apik. Guna melawan tim ini, kami khusus memainkan pola serangan balik. Hasilnya cukup jitu, kami sempat unggul 2-0 dan 4-2, sebelum akhirnya disamakan di menit-menit akhir menjadi 4-4. Pertandingan ini juga penuh kontroversi karena timku banyak dirugikan oleh keputusan wasit yang banyak memihak tim lawan. Namun demikian, 1 poin merupakan hasil yang cukup baik.

Pekan ini kami bertanding melawan tim tangguh lagi, yaitu "Crewsaders". Para pemain tim ini berpostur atletis dengan tinggi rata-rata 180cm. Kebayang dong gimana susahnya melawan pemain-pemain berpostur menjulang dan kaki panjang di dalam lapangan kecil. Keunggulan postur ini benar-benar digunakan oleh mereka. Permain mereka sangat mengandalkan fisik sementara timku tetap mengandalkan taktik serangan balik cepat. Syukurlah, lewat perjuangan keras, kami berhasil meraih kemenangan 2-1. Badanku lumayan bonyok juga, karena sering tabrakan dan beradu badan dengan pemain lawan, tapi kemenangan yang diraih tidak sia-sia. Sekarang kami menempati peringkat 2 klasemen sementara dengan total 7 poin dari 4 pertandingan.

Dari total 4 pertandingan, total aku sudah mengemas 6 gol dan selalu mencetak gol di tiap pertandingan. Namun, pertandingan pekan depan, mungkin jadi pertandingan terakhirku. Karena pekan ke 6 dan selanjutnya, masa puasa Ramadhan akan segera datang. Semoga saja minggu depan kami bisa memenangkan pertandingan sehingga langkah berikutnya menjadi lebih ringan. Salam olahraga pokoknya.

Friday, August 24, 2007

Hijrah

Hanya bilik bambu tempat tinggal kita
Tanpa hiasan tanpa lukisan
Beratap jerami beralaskan tanah
Namun semua ini punya kita
Memang semua ini milik kita sendiri

Hanya alang-alang pagar rumah kita
Tanpa anyelir tanpa melati
Hanya bunga bakung tumbuh di halaman
Namun semua itu punya kita
Memang semua itu milik kita

Haruskah kita beranjak ke kota
Yang penuh dengan tanya

Lebih baik disini, rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah yang kuasa
Semuanya ada di sini
Rumah kita

Rumah Kita by Ian Antono / Theodore KS
------------
Selamat pindahan ya Hun! Maaf gak bisa bantuin. Semoga semuanya lancar. Insya Allah.

Home Travel

Dear Student
Your AusAID scholarship award is due to end soon and this is to inform you of the necessary steps to take in order to facilitate a smooth and timely departure from Australia.
Please find attached an information sheet plus booking form, the booking form must be return to the Fees Unit or to Voyager Travel as soon as possible. Please note there asseats available for the 14 Dec 2007 but these seats are filling fast.
--------
Sudah siap2 angkat kaki nih dari negeri kangguru. Petualangan selama 2 tahun ini, akan segera berakhir. Kalo ada lowongan kerja di Jakarta, jangan lupa kontak2 yah, hehehe.

Thursday, August 16, 2007

Salah Asuhan

Selamat malam ibu pertiwi. Esok tampaknya aku absen dari upacara bendera di Konjen. Tahun lalu kesiangan, tahun ini malas. Tapi jangan buru2 bilang kalo aku tidak patriotik loh. Buktinya, aku selalu bernyanyi kencang kala lagu Indonesia Raya diperdengarkan sebelum timnas Indonesia berlaga di Piala Asia Juni lalu. Aku juga selalu menjawab dengan antusias kala teman-teman asingku bertanya kewarganegaraanku. Selalu, aku selalu bernada optimis setiap kali aku bercerita tentang negeriku. Tidak hanya itu, sampai saat ini, aku juga masih hafal dengan 5 sila di Pancasila kita dan juga aku masih hafal nama2 ibukota provinsi di Indonesia. Tak lupa, aku juga masih ingat siapa itu Thomas Matulessy, Sultan Ageng Tirtayasa sampai kepada nama-nama 7 pahlawan revolusi.

Namun, bukan kemudian aku bersih dari sifat-sifat yang tidak nasionalis. Kalo mau jujur, aku bisa dibilang anak ibu pertiwi yang salah asuh. Kenapa salah asuh? karena sedikit banyak aku tidak menjalankan amanat ibu pertiwi. Aku pergi sekolah mengembara ke negeri seberang dengan doa dan ketulusan ibu pertiwi. Pake iming2 dan stempel dari ibu pertiwi. Tapi apa daya aku memilih menjadi seorang pengecut - sama pengecutnya seperti Belanda yang menangkap Pangeran Diponegoro dengan dalih mengadakan pertemuan damai.

Aku datang lewat jalur terpilih berbekal harapan tinggi ibu pertiwi agar aku kelak bisa membawa ilmu berharga bagi anak bangsa. Tapi...
Aku memilih mengurungku diriku di kamar, asyik berbincang dengan egoku sendiri. Aku memilih pada orientasi belajar semu, mencari nilai dan bukan pencarian ilmu. Aku sibuk dengan dogma lama, duduk, dengar dan catat, itu juga kalo aku bawa catatan...selebihnya aku lebih senang berbicara dengan internet. Aku juga kerap meminjam tugas-tugas semester lalu dari rekan sejawatku. Harapannya, aku bisa dapat gambaran dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Kenyataannya, aku menjadi sangat bergantung pada contoh-contoh tersebut, aku memilih memasung imajinasi dan kreativitasku.

Aku juga senang jalan-jalan mengagumi keindahan negeri seberang ini. Kalo hasilnya bagus, aku gemar memamerkannya kepada rekan-rekanku. Berharap ada sebuah kata pujian akan kesuksesan. Aku bahkan kerap menabung uang demi bisa berkeliling banyak negara. Aku punya beribu dalih, kapan lagi bisa begini? Aku kerap alpa, bahwa tugasku hakikiku adalah belajar, belajar dan belajar - yang kemudian aku ganti dengan bekerja, bekerja dan bekerja. Aku lupa bahwa teman setiaku seharusnya buku, diskusi akademik dan perpustakaan. Alih-alih, teman setiaku saat ini adalah ambisi, pragmatisme dan apologi.

Langkahku di negeri seberang ini tinggal hitungan bulan saja, sulit bagiku menyadari semuanya. Terlambat bagiku mengubah sesuatu. Maaf karena mengecewakanmu. Dulu aku sempat berpikir, kenapa anak bangsa tak kunjung maju, sementara banyak orang terpilih yang bisa berangkat menimba ilmu ke negeri seberang? Sebagian jawaban pertanyaan itu sudah kudapatkan sekarang. Karena mungkin banyak orang-orang seperti aku - salah asuhan - di mana-mana.
Dirgahayu Republik Indonesia. Bangunlah badannya bangunlah Jiwanya....untuk Indonesia Raya!

Tuesday, August 14, 2007

Indoor Soccer

Sebuah sms masuk ke henponku seminggu lalu. "Tot, mau ikutan kompetisi Indoor Soccer, gak?", pengirimnya mas Imam, mahasiswa PhD Buseco. Tak perlu berpikir panjang, aku langsung jawab, "Mau, mas.., kapan mainnya"?, tak lama kemudian mas Imam menjawab, "Tiap Kamis siang, sampai week 10 kuliah, kita berada di divisi II", tulisnya. Wah, berarti mainnya serius nih, batinku, padahal setelah tiba di Oz dari liburan, aku sudah 3 minggu tidak latihan. Untungnya, kemarin pas di Jakarta sempat main futsal 2 kali di Kuningan, minimal fisik dan sentuhan masih terjaga lah.

Satu hari sebelum pertandingan, mas Imam mengirim email ke aku. Isinya tentang jadwal pertandingan timku. Kami ada di divisi II dalam ajang Indoor Soccer League Monash Caulfield. Total ada 8 tim di sana. Masing-masing tim akan saling bertemu untuk menentukan 4 tim teratas. Kemudian 4 tim teratas secara silang akan bertemu di babak semi final, untuk memperebutkan tiket ke babak final, sekaligus promosi ke divisi I. Oya, nama timnya JB - kependekan dari Jakarta-Bangkok. Dinamakan seperti itu, karena tim ini sebenarnya bentukan mahasiswanya mas Imam di Monash, yang kebetulan mayoritas terdiri dari anak Thailand dan Indonesia. Jadi, bisa dibilang aku pemain cabutan lah, hehehe.

Tiba saatnya hari pertandingan. Kami main di jam pertama. Lama pertandingan indoor soccer adalah 15 menit untuk 2 babak dengan jumlah pemain 5 orang termasuk kiper. Jujur saja, ada perasaan grogi juga. Maklum ini pertandingan kompetitif pertamaku setelah lebih dari 10 tahun (terakhir waktu ikut Liga Smanda zaman SMA dulu, di mana selama tiga tahun, aku dan timku selalu maju ke babak final tiga kali, dengan rekor selalu kalah di final..:p).

Sebelumnya, aku kenalan dengan beberapa rekan setim dari Thailand-yang beberapa nama panggilannya satu huruf (P, T dan B) - jadi ingat cerita istriku waktu di Singapura yang bilang kalo teman2 Thai-nya juga punya nama panggilan satu huruf saja..:p Selanjutnya tiba saatnya untuk pemanasan dan menyusun strategi permainan. T, mengusulkan untuk memakai taktik 2-2, alias 2 bek dan 2 pemain tengah. Tapi, berdasar pengalamanku waktu main futsal kemarin di Jakarta, taktik 1-3 alias 1 bek dan 3 pemain tengah, cukup agresif dan efisien untuk meraih kemenangan. Walhasil kami main dengan taktik 1-3. Lawan yang dihadapi hari itu adalah Asianroos 2.0, yang mayoritas diperkuat anak2 Cina. Pertandingan dimulai, aku memilih untuk jadi pemain pengganti, biar bisa mengamati pertandingan terlebih dahulu^^

Baru memasuki menit ke 5, kami sudah unggul 2-0. Kami bermain agresif dan cepat dan itu cukup efektif untuk membuat permainan lawan tak berkembang. Konsekuensinya, stamina dan nafas jadi cepat terkuras, tak heran beberapa rekanku dengan cepat sudah merasa kecapekan. Menit ke 8 aku masuk, menempati sisi kanan lapangan tengah. Permukaan permainan yang sedikit licin menjadi kendala bagiku, butuh waktu adaptasi lagi untuk mengontrol bola. Memasuki menit 11, lewat serangan dari sisi kanan aku berhasil melewati 1 bek lawan, masuk ke kotak penalti dan langsung melepaskan tembakan - sayangnya sedikit meleset, sehingga bola bergulir perlahan saja, untungnya bola sempat memantul sedikit ke kaki temanku yang berada di depan gawang, bola berbelok arah dan masuk ke gawang, the keeper had no chance. GOLL!

Babak kedua. Aku memulai dari bangku cadangan lagi, masih mengatur nafas. Baru menit ke 6 aku masuk. Kali ini permainan lebih terbuka jadi aku bisa punya waktu untuk mengontrol permainan. Menit ke 10, kami mendapat tendangan ke dalam. Aku yang berada di sisi kanan, berlari menyambut bola ke sisi kiri lapangan, pas sekali temanku langsung mengoper bola. Dengan tenang bola aku kontrol, ternyata tidak ada yang mengawalku, bola aku giring ke dalam kotak penalti, sedikit melihat arah gawang, dengan penuh perhitungan, bola aku tendang dengan deras ke sudut kiri penjaga gawang - yang bereaksi lambat menahan tendanganku. GOLL. Skor akhir 5-1 buat tim kami. Dan aku berhasil mencetak 2 gol. Hmm..debut yang lumayan. Masih banyak yang perlu diperbaiki dari tim kami, salah satunya stamina dan koordinasi antar lini. Namun demikian, kami punya bekal bagus mengahadapi pertandingan kedua nanti. Cheers!

Monday, August 13, 2007

Doa untuk Gilang

Hampir seminggu sudah, adikku Gilang, terbaring di rumah sakit. Kecelakaan motor sepulang ia bersekolah, menjadi penyebabnya. Ia mengalami trauma di kepala cukup parah, yang membuat ia sempat tak sadarkan diri selama 2 hari. Alhamdulillah, hasil CT-scan memastikan bahwa ia tidak mengalami pendarahan di otak, sehingga tidak diperlukan proses operasi lebih lanjut. Namun demikian, ingatannya belum sepenuhnya pulih. Ia masih kerap nyanyi-nyanyi tidak karuan, salah satunya lagu 'Hari Kemerdekaan' - mungkin untuk menunjukkan seberapa patriotiknya dia terhadap bangsanya. Lain dari itu, ia kerap marah-marah sendiri - terutama terhadap mbak Okie dan Bapak - yang notabene keduanya memang musuh bebuyutan Gilang.

Dalam kondisi jauh dari rumah, tentu bukan hal yang mudah bagiku untuk membantu meringankan beban keluargaku. Tapi aku berusaha keras menghibur dan menguatkan hati keluarga, terutama Bapak dan Ibu, karena bagaimanapun juga, musibah merupakan bagian dari perjalanan hidup, jadi harus kita hadapi dengan lapang dada. "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan", janji Allah di surat Al-Insyirah. Untuk itu kami harus selalu optimis dan sabar dalam menghadapi ini semua. Cepat sembuh Gilang, biar kelak kita bisa bercanda tawa kembali.

Sunday, August 05, 2007

Kopi Darat

Agenda kepulanganku kemarin ke Jakarta salah satunya adalah bergabung di ajang kopi darat komunitas Hattrick Indonesia. Komunitas ini awalnya terbentuk di dunia maya via sebuah game simulasi sepakbola bernama hattrick. Keakraban yang terjalin, akhirnya coba kami lanjutkan di pula dunia nyata. Secara kebetulan, gelaran piala Asia sedang berlangsung di Jakarta sehingga tak heran jika ada beberapa manajer dari luar Jakarta juga ikutan bergabung (antara lain dari Singapura, Yogya dan Bandung). Acaranya terbilang sangat sukses, karena peserta yang datang cukup banyak plus kami bisa makan dan ngobrol sepuasnya di restoran enak di kawasan Plaza Semanggi. Tambahan lagi, acara kumpul2 ini ternyata juga diliput oleh Bolavaganza yang kemudian menampilkannya secara khusus di rubrik komunitas BV di edisi 70 bulan Agustus ini. Dan ehem...secara kebetulan fotoku juga nampang di situ. Lumayan buat dipajang guna mengusir nyamuk di rumah^^.

Tuesday, July 31, 2007

Bandara Perth yang 'Ndeso'

Rute kepulanganku ke Melbourne kali ini, sedikit berbeda. Biasanya, kalo dari Singapura, aku akan terbang langsung ke Melbourne. Atau jika dari Jakarta, maka transit di Sydney. Kemarin, aku terbang ke kota bermoto "Victoria on the Move" via Perth, kota di sebelah barat Pantai Australia. Alih-alih mendapatkan perjalanan yang nyaman dan menyenangkan - karena aku memakai Qantas yang notabene maskapai penerbangan nasional Oz, ternyata pengalamannya justru tidak mengenakkan.

Entah kenapa, keberangkatan Qantas dari Jakarta-Perth, tertunda selama 2 jam. Jadwal seharusnya adalah jam 1 pagi, tapi kemudian molor jadi jam 3 pagi. Kebayang kan, gimana rasanya harus 'ronda' di bandara?

Selanjutnya aku transit di Perth. Ada 2 hal yang bikin jengkel di Bandara ini. Pertama, antrian pengecekan barang di custom. Standarnya, untuk antrian pengecekan barang bawaan, petugas selalu membagi 2 jalur berbeda: declare dan non-declare section. Jalur yang pertama lebih lama, karena petugas kepabeanan akan mengecek barang kita satu persatu. Sementara jalur kedua hanya melalui alat pemindaian sinar x tanpa harus dicek satu persatu. Dengan penreapan 2 jalur ini, maka arus penumpang yang datang menjadi lebih lancar. Tapi, karena di Perth hanya memakai 1 jalur saja (declare dan non-declare dicampur), maka antrian penumpang yang melalui pengecekan custom pun jadi lebih panjang. Parahnya, saat itu ada 2 pesawat yang mendarat. Bisa dibayangkan bagaimana panjang antriannya? Walhasil, aku harus menunggu sekitar 2 jam, hanya untuk pengecekan barang bawaan. Biasanya, jika melalui non-declare line paling lama antri sekitar 20 menit.

Kedua, adalah masalah transfer pesawat. Saat mendarat di Perth, penerbanganku selanjutnya adalah Perth-Melbourne, yang tak lain adalah penerbangan domestik. Celakanya, untuk menuju bagian penerbangan domestik, kita harus menempuh jarak sekitar 10km dari bagian penerbangan internasional. Karena aku memakai Qantas, maka aku bisa pakai bus khusus yang disediakan oleh maskapai tersebut. Masalahnya, jadwal bus ini setiap 30 menit - bandingkan dengan jadwal sky bus di City - Airport di Melbourne yang jadwal berangkatnya setiap 15 menit!. Walhasil, setelah menunggu 2 jam di custom, aku harus menunggu shuttle bus selama 20-30 menit plus 20 menit perjalanan menunju bandara penerbangan domestik. Selamat dehh...

Kalo teman-teman pikir, bahwa 'penderitaanku' berakhir setelah sampai di penerbangan domestik Qantas, maka kalian salah! Karena ternyata Qantas lagi-lagi tidak seperti merpati yang tak pernah ingkar janji. Penerbanganku ke Melbourne, harus ditunda 2 jam lagi. Selamat deh, jadinya aku transit di Perth, selama 9 jam.

Saturday, July 28, 2007

Kabar Kabari dari Indonesia

Tak terasa, 'tugas' pulang ke Jakarta selama sebulan sudah berlalu. Sekarang aku sudah di Melbourne lagi. Nah, hitung-hitung sebagai oleh2 dari Indonesia, berikut beberapa update berita dari tanah air:
1) Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan tuntutan penghapusan salah satu pasal di UU 32/2004 tentang Pemda yang berkaitan dengan keharusan bagi calon kepala daerah diajukan oleh partai politik. Implikasinya, calon independen kini bisa bersaing di Pemilu nasional maupun lokal. Namun demikian masih dibutuhkan perangkat peraturan perundang-undangannya. Layak ditunggu apakah wacana calon independen di pemilu kita bisa terus bergulir, karena banyak pihak yang masih berusaha menggagalkannya.
2) Kendati timnas sepakbola gagal melangkah ke babak selanjutnya, pencapaian Indonesia sebagai salah satu tuan rumah Piala Asia terhitung sukses. Antara lain lewat rekor penonton sebanyak lebih dari 270 ribu sepanjang keseluruhan babak grup. Rekor ini tak lepas dari jumlah penonton di laga tim merah putih yang rata-rata berjumlah 80 ribu penonton. Ini membuat presiden FIFA Sepp Blatter tertarik untuk menyaksikan babak final yang juga akan diselenggarakan di GBK Jakarta. Tambahan lagi, permainan timnas Indonesia yang penuh semangat dan determinasi, mengundang banyak simpati dari para bolamania nasional.
3) Tidak seperti yang aku pikir, ternyata Trans TV dan TV7 tidaklah merger, melainkan TV7 diakuisisi oleh TransCorp perusahaan induk Trans TV, sehingga berubaha nama menjadi Trans7. Selain terkenal dengan acara talkshow 'Empat Mata' bersama Tukul, berdasar pengamatanku, Trans7 banyak menyuguhkan program lokal yang sarat dengan muatan pendidikan dan pengetahuan. Ini bisa dilihat dari beberapa macam programnya macam: 'Asal-Usul', 'Laptop si Unyil', 'Si Bolang (Bocah Petualang)' sampai 'Reportase'. Pendeknya, menurutku, Trans7 coba menghadirkan acara televisi yang berbeda - tidak melulu berisi acara2 'cemen'.
4) Nama Lampung, mulai terangkat di layar kaca. Ini berkat sepak terjang Chelsea Olivia yang melejit namanya lewat beberapa sinetoron ABG. Akhir-akhir ini, cewek berparas mirip Leony trio Kwek2 juga rajin mondar mandir di infotainment, berkat kisah pacarannya dengan sesama pesinetron muda - Glen Alinsky. Tak hanya Chelsea, nama Lampung juga ikut melejit lewat kiprah sebuah band yang diklaim kampungan oleh mayoritas warga Jakarta. Siapa lagi kalo bukan Kangen Band? kendati kerap dicemooh sebagai band kacangan yang beraliran pop melayu, mereka sukses diikat oleh salah satu label besar yaitu Warner Music Indonesia dan mencetak platinum lewat penjualan 300 ribu keping kasetnya. Tambah luar biasa lagi, karena personil dari Kangen Band sesungguhnya adalah rakyat jelata belaka. Sebut saja sang vokalis (Andhika) yang aslinya berprofesi sebagai tukang cendol keliling, sementara rekannya yang lain pernah berpofesi sebagai tukang bangunan, tukang jual nasi uduk, sampai tukang bengkel.
5) Impian untuk naik transportasi publik yang nyaman, aman dan terintegrasi sudah hampir terwujud di Jakarta. Saat ini busway atau sistem bus Transjakarta sudah punya 10 koridor yang saling terhubung. Perpindahan jalur antarkoridor pun tidak dipungut biaya tambahan, sehingga tak heran jika di banyak masyarakat tertarik naik busway dibandingkan naik bus Patas atau Taksi. Sebagai contoh, dari Matraman, aku bisa sampai ke Benhil dengan biaya Rp3,500.- dalam waktu 45 menit via 2 Koridor. Kendati masih banyak yang perlu diperbaiki, busway bisa dibilang salah satu andalan kita-kita yang tak memiliki kendaraan pribadi.
Sekian dulu Kabar-kabari-nya.

Thursday, July 19, 2007

Kecoa Ibukota

Apa yang Anda lakukan jika Anda memiliki 2 pilihan yang tidak berimbang? Yang satu hampir pasti dan yang satu lagi hampir tidak pasti? Jawaban yang logis adalah mencoba berjuang untuk sesuatu yang hampir pasti bukan? Hal itulah yang coba aku lakukan saat ini yaitu menikmati kota Jakarta dengan segenap manis pahit ceritanya. Jika mau diurai, banyak sekali memang cerita pahit kota metropolitan kebanggaan rakyat Indonesia ini. Namun mengurai kepahitan jelas tidak akan membantu kita berjuang mengarungi medan laga. Lebih baik kita mengurai cerita-cerita manis tinggal di kota yang dulunya bernama Batavia ini:
1) Tinggal di Jakarta jelas melatih kesabaran. Kemacetan yang mengular membuat kita sering mengelus dada dan beristigfar. Ini bagus untuk latihan mengontrol emosi jiwa.
2) Menggunakan transportasi publik di Jakarta, dapat membuat tubuh semakin fit. Bagaimana tidak? Jika memilih naik Busway Transjakarta, misalnya: kita harus naik turun jembatan penyeberangan yang luar biasa panjangnya itu guna menggapi loket. Tidak sampai di situ, tangan dan kaki kita semakin terlatih kuat, sebab kita akan bergelantungan dan berdiri di dalam bus, karena bus dipastikan sesak akan penumpang.
3) Hidup di Jakarta membuat insting kewaspadaan kita selalu tajam. Jika naik taksi, sudah default-nya jika kita langsung meningkatkan kewaspadaan, bagasinya ada yang aneh gak?, tanda pengenal supir persis sama gak dengan supirnya? Berapa nomor taksinya? Tindak tanduk supirnya mencurigakan gak? Belum lagi jika ada di perlintasan yang ramai atau naik metromini. Tas ditaruh di depan, dompet dan HP diletakkan di saku sebelah depan, plus selalu waspada jika ada penumpang bergerombol yang saling kenal di pintu metromini.
4) Maraknya aksi kejahatan yang bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, juga membuat kita lebih religius. Rajin berdoa, berpasrah diri dan selalu mengambil hikmah atas segala hal yang terjadi.
5) Ringan dalam bersedekah. Gimana enggak? Di setiap sudut jalan, jembatan penyeberangan dan tempat makan, sangat banyak peminta-peminta dan anak jalanan yang mengemis. Jika ada sedikit rejeki, gak perlu susah-susah cari tempat bersedekah, cukup siapkan uang recehan, beres…

Jadi, seperti lagunya Koes Plus deh…”ke Jakarta aku kan kembali….uouououo…”

Friday, July 13, 2007

Histeria

Salah satu jadwal liburanku kali ini di Indonesia adalah menyaksikan secara langsung tim nasional Indonesia bertanding di gelaran Piala Asia (PA) 2007 di Jakarta. Rencana mendukung Bambang Pamungkas dan kawan-kawan, bahkan sudah aku lakukan dari jauh-jauh hari -antara lain lewat tulisan pengobar semangat yang kebetulan dimuat di majalah Bolavaganza edisi Juli 2007 yang bisa dilihat di sini. Partisipasi Indonesia di PA kali ini terbilang spesial, karena Indonesia bertindak sebagai tuan rumah gelaran yang 3 tahun lalu diadakan di Cina ini. Indonesia sendiri tergabung di grup D bersama tim-tim kuat Asia macam Arab Saudi, Korea Selatan dan Bahrain.

Di pertandingan pertama yang dilangsungkan Selasa (10/7) lalu, timnas Merah Putih mampu membungkam Bahrain - yang notabene adalah semifinalis PA tahun 2004. Kemenangan ini sontak menciptakan histeria dan euphoria para suporter yang biasanya kerap pulang dari stadion Senayan dengan kepala tertunduk - karena timnas kalah. Selain itu, kesatuan dukungan para penonton di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) terbilang luar biasa, dibandingkan aksi suporter tuan rumah di 2 negara penyelenggara PA lainnya yaitu Malaysia dan Bangkok yang sepi penonton.

Namun demikian, di beberapa sisi GBK masih terlihat ruang kosong yang menganga- padahal di luar stadion, banyak sekali penonton yang tidak kebagian tiket pertandingan. Usut punya usut, ternyata tiket bangku kosong tersebut jatuh ke tangan para calo yang menjual tiket 2-3 kali lipat dari harga aslinya (bayangkan untuk tiket kategori 1 seharga 75 ribu rupiah, di tangan calo harga tiket menjadi 200 ribu sampai 225 ribu!!).

Sabtu esok (14/7), timnas akan kembali berlaga menghadapi tim 'berkaki tiga' yaitu Arab Saudi yang dipertandingan pertama bermain imbang 1-1 dengan Korea Selatan. Kemenangan akan secara otomatis meloloskan timnas ke babak perempat final yang kemungkinan akan dimainkan di Kuala Lumpur atau Jakarta. Jadi dukung terus timnas merah putih!


Tuesday, June 19, 2007

Asikk Dimuatt!!

Hari ini baru dapat kabar dari mas Luki, kalo 2 tulisan yang kami tulis bersama ternyata sudah dimuat di Suara Pembaruan (SP) an Seputar Indonesia (Sindo). Selama ini, kita sama-sama sibuk, jadi gak pernah sempat ngecek konfirmasi dimuatnya tulisan kami. Kedua tulisan bertema tentang pengesahan Undang-Undang Penanaman Modal (UUPM) bulan Maret lalu, yang ternyata sarat dengan berbagai hal yang perlu dikritisi. Tulisan pertama berjudul, "Aral dalam UUPM" bisa ditemukan di link berikut: http://www.suarapembaruan.com/News/2007/05/10/Editor/edit01.htm

Sementara yang dimuat di Sindo berjudul: "Global Auction: Menggadaikan Negara demi Investasi" - tapi sayang arsip artikelnya sudah dihapus. Namun demikian versi lengkapnya bisa dilihat di http://www.gatosoideas.blogspot.com/. Selamat membaca!

Monday, June 18, 2007

HALA MADRID!!

Setelah 4 tahun menanti akhirnya Real Madrid jadi juara La Liga (lagi). Pertandingan subuh tadi bener-benar bikin histeris. Gimana enggak, sampe menit 65, yang juara La Liga adalah Barca - karena mereka unggul atas Gimnastic 4-1, sementara Madrid sendiri tertinggal 0-1 melawan Mallorca. Tapi untuk kesekian kalinya, dewi keberuntungan masih berpayung ke anak-anak Valdebebas. Masuknya Reyes, ternyata menjadi kunci kemenangan mereka. Reyes mencetak 2 gol dan membalikkan keadaan menjadi 3-1 (1 gol lagi oleh Momo Diarra).

Sukses Madrid tahun ini memang jauh dari sempurna. Mereka hanya menang head to head atas Barca. Dari segi permainan pun, mereka kalah jauh dibandingkan rival abadinya tersebut. Tapi apapun itu, gelar juara tetap di simpan di lemari trofi El Merengues. Setelah berkali-kali sedih dan kecewa karena tim-tim jagoanku selalu gagal di pelbagai turnamen, akhirnya Madrid mampu mengobati itu semua. Keberhasilan ini mutlak untuk para Madridistas di seluruh dunia, buah dari kerja keras, kesabaran dan perjuangan tanpa kenal lelah. Sampai jumpa musim depan.

Saturday, June 16, 2007

Fight until the finish line!

Judul di atas diambil dari welcome note di telefon genggamku. Pesan kecil tersebut ditulis oleh 'mantan pacarku' sebagai pengingat agar aku tidak pernah lelah dalam menyelesakan studiku di sini. Tulisan kecil itu terasa benar maknanya dalam kurun waktu 2 minggu terakhir ini. Pasca penyelesaian proposal dan presentasi riset, aku masih harus menyelesaikan diskusi mengenai model empiris, jenis data serta sampel terbatas data risetku. Tambahan lagi, 2 ujian masih menanti, dengan satu materi pun belum aku baca. Kondisi makin parah lagi, karena pergantian cuaca yang begitu cepat - dari hangat menjadi dingin banget di sini, membuat tubuhku jadi rentan terhadap penyakit - antara lain flu dan demam. Walhasil, di tengah gigilan dingin dan demam yang mendera - aku berusaha untuk menyelesaikan hal-hal di atas.

Sekarang, aku punya waktu bersih 4 hari untuk belajar demi ujian. Bukan waktu yang ideal memang, tapi aku gak punya pilihan. Untuk 2 ujian ini, aku gak punya masalah dengan motivasi. Motivasiku jelas, yaitu 'balas dendam' - setelah nilaiku di tugas-tugas 2 mata kuliah tersebut bisa dikatakan 'jeblok'. Perlu kerja keras memang, tapi aku rileks - sepanjang aku siap - semuanya akan baik2 saja, hehehe. Mohon doanya ya teman2!

Terakhir, aku juga mau ngucapin selamat berjuang buat 'mantan pacar' yang akan presentasi nun jauh di belahan bumi yang lain (Kericho, Kenya). Kita sama-sama berusaha yah - seperti isi pesanmu- fight until the finish line!

Wednesday, June 06, 2007

Tram Tracker


Sebagai pengguna setia jasa transportasi publik kota Melben, hal yang paling Saya benci adalah menunggu tibanya tram/train/bus tanpa tahu berapa lama moda transportasi publik tersebut datang 'menjemput'. Hal ini ternyata dimengerti benar oleh pengelola jasa tranportasi publik di Melben. Untuk train, saat ini para penumpangnya bisa mendapatkan informasi tepat waktu mengenai jadwal keberangkatan train di stasiun dan jalur tertentu. Yang dibutuhkan hanya telefon genggam bersama pulsa, informasi stasiun dan jalur yang kita tuju. Dengan informasi ini, kita bisa menghindari kemungkinan menggigil kedinginan di stasiun - karena terlalu lama menunggu train.

Untuk tram - moda transportasi lingkar dalam kota Melben - para pengguna jasanya, saat ini bisa mendapatkan informasi serupa. Cukup bermodal pulsa, kita bisa mendapatkan informasi tepat waktu mengenai berapa lama tram yang kita tunggu akan tiba. Iklan mengenai informasi tram tracker ini bisa dilihat bersama fotoku di sebelah. Lucu ya iklannya, hehehe. Semoga Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia bisa lekas memperbaiki sarana transportasi publiknya, agar kualitas kehidupan kita bisa lebih nyaman.

Foto: numpang jepret mbak Debbie, soalnya doi udah mulai sibuk berfoto2 kenangan dengan Melben - bentar lagi diusir AusAid soale.