Saturday, May 28, 2005

.....di sudut lelah benakku...aku temukan syair lagu ini.....pass bangett....
KULDESAK..

Aku bagai buih di laut biru
Tersapu ombak terhempas badai
Aku bagai debu di padang pasir
Terseret angin terbakar panas

Aku bagai bintang di gelap malam
Di antara 1000 bintang
Terdampar di puing jagat raya
Terkapar tak berdaya

Menangis….Tertawa…semua tak bisa dihindari……….

Tolonglah Tuhan……………..Beri Petunjukmau
Jalan Yang Benar……………..Menuju Jalanmu
Agar Tak tersesat………………Di Persimpangan Jalan…..

* Apa yang akan terjadi…..Kuldesak ini harus mampu aku lewati….

Kasih Putih Sephia
(Tribute buat para kekasih gelap di manapun kalian berada....)

Sephia dalam istilah fotografi (sepengetahuanku) sesungguhnya bermakna gelap, remang dan temaram. Oleh Sheila On 7, Sephia dijadikan perlambang bagi seorang wanita yang rela menjadi kisah tersisa bagi seorang pria yang telah memiliki sebuah kisah cinta utama. Simpelnya, Sephia itu kekasih gelap, remang dan temaram.

Identik dengan gelap, kepalsuan, perselingkuhan dan pengkhianatan, Sephia menjadi cap hitam yang kerap dihindari para wanita. Keidentikan itu tak pelak juga menghinggapiku, hingga akhirnya aku tersadar, bahwa seorang Sephia pun juga manusia. Seorang Sephia juga memiliki kasih putih, bahkan menurutku lebih putih dari seorang kekasih sejati.

Sephia berkasih putih rela mendapati kenyataan bahwa dirinya hanya menjadi kisah tersisa…..rela dicinta dengan hanya setengah hati…..rela menjadi yang kesekian untuk disapa…..rela untuk selalu menunggu untuk dirindu…tabah untuk meyakinkan hatinya untuk mencari cinta sejati….tabah untuk menerima kenyataan bahwa cinta itu tak selalu memiliki…tegar dan kuat ia, menahan gejolak kebimbangan hatinya...

Jujur saja, Sephia berkasih putih itu kadang menjadikan seorang pria gila sekalipun berdecak kagum…air mata gembira dan sedihnya, sulit untuk dibedakan….isak tangis dan senyumnya sulit untuk dipisahkan, duka nestapa dan gembiranya terlampau sulit untuk dikenali…namun dengan semua itu...ia jalani hidupnya..bahkan ketika ia sadar hanya SETENGAH HATI yang mencintanya...kepalanya tetap tegak menatap hari..

Sephia berkasih putih, sesungguhnya hanya ingin mencari cinta sejati dari pria yang ia yakini bisa menerangi gelap harinya, menemani mimpi2nya, menyalakan bara asanya…sesungguhnya ia hanya ingin jujur pada dirinya, bahwa walaupun sang pria telah ada yang punya, setengah hatinya masih ia harapkan….

Di sudut bimbangnya sang Sephia berkasih putih kerap hanya dapat bertanya dalam hati….
“Bila rindu ini masih milikimu,………..Kuhadirkan Tanya untukmu…..Harus berapa lama aku menunggumu……….”

Namun...Di sudut keraguannya sang Pria pun berusaha untuk membunuh rasanya sambil bergumam dan merancang kata….”Maafkan aku Sephia….Lupakan Aku…jangan pernah kau harapkan cinta yang indah dariku…karena masih ada cinta lain yang tak bisa untuk aku tinggalkan…..”

***

Dari Mengawal Pemilu 2004, Kini Melindungi Anak-Anak

3 minggu sudah aku memasuki sebuah cerita pengabdian yang baru. Kalo dahulu aku bekerja di unit yang bertugas untuk mengawal dan mensukseskan Pemilu 2004, kini tugas yang tak kalah berat juga harus aku arungi, bekerja di lembaga yang memegang mandat untuk membantu perkembangan dan pertumbuhan anak2.

Tapi ternyata tugas di atas tidaklah mudah, banyak riak tantangan dan proses pembelajaran yang harus aku lalui. Gak janji sih untuk terus mengabdi, tapi setidaknya aku sudah mencoba dan berbuat yang terbaik…hohoho

Biarpun masih agak2 males di tempat yg sekarang, tapi kalo sekedar cerita mah, gpp dehh…
well...tempatku sekarang terdiri dari 2 section. Section yang pertama, program..dan section yang kedua bernama operation. Aku bernaung di bawah section program, sementara section operation seperti biasa berisi: Finance, Admin, IT, Supply dan HR. Nah di section program ada beberapa unit (hmm…kalo di swasta namanya divisi), Yaitu: CNSP (Children In Need Special Protection), BEFA (Basic Education For All), MECC (Maternity and Early Childhood Care), Emergency Unit (dibentuk sebagai respon Aceh dan Nias), Fighting HIV/AIDS, Health and Nutrition, dan PSD (Private Division Sector, salah satu unit yang di-create buat fund raising bagi kantorku, antara lain dengan jualan kartu dan pernak-pernik..) serta PME (Planning, Monitoring and Evaluation). Aku bergabung bersama CNSP atau disingkat CP Unit (Child Protection).

Ada beberapa program utama di CP unit, antara lain, combating child labour (program-program melawan perburuhan/tenaga kerja anak-anak), Juvenile Justice (peradilan dan hukum bagi anak-anak), Child Abuse (program-program untuk melawan pelecehan terhadap anak-anak), CSEC (Child Sexual Exploitation Care- program untuk melawan eksplotasi seksual anak-anak) dan terakhir Birth Certification (pendataan dan sosialisasi tentang pentingnya akta kelahiran).

Contoh konkret dari program2 itu antara lain, membentuk task force pengawasan buruh anak2 di level daerah, kampanye UU Perlindungan Anak, sampai seminar dan sosialisasi tentang hukuman bagi anak2 (juvenile justice), kemudahan akses pendaftaran dan pencatatan kelahiran anak di pencatatan sipil, sampai ke upaya untuk menggol-kan undang-undang pencatatan sipil.

Btw itu baru reguler program.

Kalo udah bicara mengenai Emergency Program (Aceh, Nias dan Maluku)..Gubrakk..lebih rumit, kompleks tapi seru, hehehe..

Jujur, gak mudah mengerjakan program-program tersebut, karena memang kami harus bekerja sama dengan banyak counterpart termasuk pemerintah dan LSM-LSM. Belum lagi peraturan kantorku yang rumit, kompleks dan birokratis. Semuanya membuat lebih sulit sekaligus juga menantang.

Oh ya, kantorku yang di Indonesia ini, punya duta keliling untuk kampanye program dan kebijakan2 tentang anak2.kemarin ketemu sih di kantor. Mau tahu gak siapa aja? Ferry Salim dan Christine Hakim..

Oya, sayangnya mereka berdua gak penting….kecuali kalo yang jadi duta kelilingnya itu Surya Saputra dan Dian Sastro……..huhuhuhu…..poto2 bareng dehh..

Hmm..karena lagi gak terlalu mood cerita tentang kantor, untuk lebih lengkapnya bisa baca-baca di link ini: www.unicef.org

“ For Every Child, Health, Education, Equality, Protection…ADVANCE HUMANITY”