Monday, April 04, 2005

>>Aku Menjawab Dengan Diam<<

Seminggu yang lalu dalam suatu diskusi “mendadak” di dunia maya aku ditanyai oleh seorang rekanku..Pertanyaan yang simpel, tapi dalam makna jawabannya..
Apa sih tujuan hidupmu??

Aku sempat terdiam beberapa saat..karena memang itu bukan pertanyaan yang mudah untuk orang serumit aku…lalu dengan sekenanya aku jawab saja bahwa aku ingin menjadi manusia yang berguna bagi nusa bangsa dan agama. Huhuhuuh…masih ditambah lagi dengan kata-kata bahwa aku ingin bahagia dunia dan akhirat…hihihihi..kenapa gak ditambahin aja sekalian, bahwa tujuan hidupku adalah, “kecil di suka dan muda terkenal, tua kaya raya lalu mati masuk surga??

Sementara itu Duri, rekanku diskusiku yang lain, menjawab pertanyaan tadi dengan sigap… tujuan hidupku adalah untuk beribadah…

Sejurus kemudian Anggi si penanya menjawab paling akhir…aku ingin jadi seorang ibu yang baik..


Di dua dan tiga malam berikutnya, pertanyaan itu masih menggelayut dibenakku. Bukan..bukan karena aku tidak punya tujuan hidup dan bukan juga oleh karena jawabanku atas pertanyaan si Anggi yang asal jawab..bukan-bukan itu. Yang membuat aku bertanya adalah,

Apakah aku sudah berada dalam jalur yang tepat di jalan tujuan hidupku?

Apakah aku sudah separuh jalan untuk menggapai tujuan hidupku??

Atau bahkan aku terlempar jauh dari tujuan hidupku?

Atau malahan aku sudah lupa dengan tujuan dan makna hidupku? Karena terasing dalam noda materialisme dan pragamatisme sehari-hari?


Lagi-lagi aku tidak dapat menjawab dengan pasti..aku tidak bisa menjawab dalam segala kerumitan diriku…aku hanya bisa (sementara ini) menjawab dengan diam…dalam bisu dan sepi…layaknya bait-bait tulisan ini:


Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal,
Aku bermimpi ingin mengubah dunia.

Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku,
Kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah.

Maka cita-citaku itu pun agak kupersempit,
Lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku.

Namun tampaknya,
Hasrat itupun tidak ada hasilnya.

Ketika usiaku makin senja,
Dengan semangatku yang masih tersisa,

Kuputuskan untuk mengubah keluargaku,
Orang-orang yang paling dekat dengan-ku.

Tapi celakanya,
Mereka pun tidak mau berubah!

Dan kini,
Sementara aku berbaring saat ajal menjelang,

Tiba-tiba kusadari:

“Andaikan yang pertama-tama ku ubah adalah diriku,
Maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan,
Mungkin aku bisa mengubah keluargaku.
Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka,
Bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku;
Kemudian siapa tahu, aku bahkan bisa merubah dunia!”

***

Hasrat Mengubah Dunia,

Terukir di sebuah makam di Westminster Abbey, Inggris, 1100 M.

No comments: