Friday, October 13, 2006

Terjual diRI

Kemarin, sewaktu berpacaran di jalur telefon, istriku sempat mengeluh tentang publikasi buruk tentang Indonesia di Singapura. Salah satunya akibat ekspor kabut asap Indonesia ke negara tetangga macam Singapura dan Malaysia. Dia kesal karena terus2an dicecar pertanyaan tentang tanggung jawab Indonesia terhadap hal tersebut. Sadar akan pentingnya advokasi terhadap nama baik bangsa, walaupun sama sekali kita bukan diplomat, kemudian aku berikan tips bagaimana menjawab pertanyaan pertanyaan tadi.
***
Kabut asap disebabkan oleh adanya pembakaran hutan oleh perusahaan-perusahaan kelapa sawit di Sumatera dan Kalimantan. Tujuannya jelas, untuk pembukaan lahan guna menanam pohon-pohon sawit yang baru. Mengapa dibakar? karena cara itu lebih mudah dan murah dibandingkan dengan menebang dan membersihkan lahan secara wajar. Jadi motifnya eknonomi juga, demi efisiensi. Lalu, punya siapa perusahaan kelapa sawit itu? jawabnya punya pengusaha2 Singapura dan Malaysia!!, baik yang dimiliki langsung maupun tidak langsung. Sewaktu jadi auditor EY dulu yang secara kebetulan adalah spesialis kebun sawit, kami sudah mafhum jika harus mengkonsolidasi laporan keuangan perusahaan2 kelapa sawit di Indonesia ke perusahaan2 milik Singapura. Adalah fakta bahwa hijau dan rimbunnya kelapa sawit yang bertebaran di bumi Indonesia, ternyata bukanlah milik kita lagi.
***
Nah, jika sekarang kabut asap melanda Singapura dan Malaysia, perlu disadari juga bahwa ada kontribusi pengusaha2 negara tetangga tersebut dalam membikin warganya 'sesak nafas'. Semoga saja mereka bisa berpikir rasional untuk sama2 menjaga alam sekitar, agar jangan melulu menyalahkan Indonesia, sementara mereka asyik mengeruk keuntungan dari alam nusantara. Lebih lanjut, penting juga buat pemerintah untuk mampu belajar dari peristiwa 'ekspor asap' ini. Kejadiannya terus berulang dari tahun ke tahun, tapi tak mampu jua pemerintah mencegah dan menanggulanginya.
***
Malang nian nasib kita memang. Sudahlah lahan habis dibakar dan asapnya bikin sesak nafas kita, kepemilikan lahan pun bukan lagi milik anak negeri. Bisa dibayangkan kerusakan alam yang kita wariskan buat anak cucu kita nantinya, demi keuntungan segelintir orang.
Terjual diRI kita, terjual di Republik Indonesia.

Disclaimer:
+ argumen di-atas adalah anecdotal evidence, belum ada data valid yang mendukungnya. Sehingga intrepretasinya masih sangat terbatas.

2 comments:

Anonymous said...

SETUJUH! Gw jg sebel sama org2 yg taunya cuma mencerca tanpa tau root cause yg sebenernya. Lagian kalo mereka merasa sebegitu menderitanya, gimana dgn org2 yg berada di pusat kebakaran itu... Setengah mati deh.
Btw, kemaren siang suasananya mendung bgt, gw pikir bakal hujan, Alhamdulillah dong. Ternyata... kabut asep! T_T

Gatoso said...

Cerita temen gw yg dr Kalimantan lbh miris lg. Katanya, pengusaha2 Malaysia tuh minta izin buat buka lahan untuk perkebunan sawit. Eh, tahunya tipu2 doang. Hutannya habis ditebang, kayunya dijual, kebun sawitnya gak dibikin. Jadi hutan2nya dibikin gundul gitu doang. Grr...