Wednesday, June 28, 2006

Bertanggung Jawab

Badai sempurna (exam di Monash) telah genap seminggu aku lalui, perasaanku pun campur aduk dibuatnya. Exam kali ini memang sunggu berbeda, begitu banyak tekanan yang aku dapatkan, tak heran, 3 minggu masa ujian kemarin, aku benar2 stress dan tegang menghadapinya. Ada beberapa faktor yang buat aku kemarin luar biasa stress. Yang pertama, sistem di Monash mewajibkan kita untuk lulus di Exam, yaitu mendapatkan minimal 50% dari total nilai di Exam. Konsekuensinya, walaupun kita mendapatkan nilai yang bagus di assignments kita, tapi gagal mendapatkan nilai minimal 50% di Exam, maka jelas, kita bakalan failed. Faktor kedua adalah masalah bahasa. 3 dari 4 ujian yang aku hadapi adalah ujian non hitungan, alias kualitatif. Jenis ujiannya pun berupa analisis argumentatif bukan sekedar pertanyaan 'datar', dengan kata lain, pertanyaannya berupa how dan why bukan what, when atau who. Konsekuensinya, aku gak cuma harus paham masalah di subject tersebut, tapi juga harus bisa mengemukakan argumenku, bisa ditebak masalahnya adalah BAHASA! Dalam waktu 3 jam ujian, mana sempet mikir pilihan kata yang baik, struktur jawaban yang logis dan tepat. Yang ada panik, pusing dan gak PD. Faktor ketiga yang bikin stress adalah faktor diri sendiri. Kelelahan mental jelas jadi faktornya. Kecapekan karena udah habis2an ngerjain assignments beberapa minggu yang lalu. Selain itu, ada 1 faktor lagi, Piala Dunia 2006, mengganggu konsentrasiku, hehhe.
***
Dari 4 ujian itu, jujur aja kualitasnya gak ada yang memuaskan. Aku benar2 gak puas dan merasa gak bisa mengerjakan dengan baik. Banyak sebabnya, salah satunya, karena aku sangat bergantung pada hints/kisi-kisi yang diberikan dosen. Saatnya hints itu sedikit berbeda, aku jadi bingung dan gak ngerti, selain juga faktor keberuntungan (aku baca A dalam topik tertentu ternyata yang keluar B atau C, plus soal2 yang dibuat tricky dan menjebak). Singkatnya, ujian semeseter pertamaku ini benar2 amburadul, berbeda 180 derajat dengan nilai2 assignmentku.
***
Perasaan khawatir akan kegagalan di-semester awal ini begitu menghantuiku. Namun, lewat sebuah perenungan singkat, aku menemukan sebuah kata kunci menghadapi ini semua: tanggung jawab!. Dengan kata lain, aku siap bertanggung jawab atas hasil-hasil yang aku raih nanti di semester ini, entah dapat nilai bagus, biasa saja atau mungkin gak lulus (amit-amit deh). Bertanggung jawab untuk mengevaluasi apa yang sudah aku lakukan untuk kemudian mencoba bangkit kembali dengan lebih baik. Kegagalan (kalo memang harus aku hadapi), bukan akhir dari segalanya. Aku sudah sering menghadapi tekanan dan kesulitan, jadi ini kesempatan yang baik untuk membuktikan seberapa hebat aku bertahan dalam belitan perjuangan ini. "Failure is simply the opportunity to begin again, this time more intelligently. "